Dua Benda, Satu Bahasa: Sejarah QWERTY & Mesin Ketik di Dongeng Kopi

Dua Perkakas Sama Sama Pas Buat Menulis di Dongeng Kopi

Mesin ketik sudah lama absen dari meja kerja. Tidak lagi digunakan, tergantikan dengan laptop, atau PC. Tapi jari kita masih bergerak dengan cara yang sama persis seperti orang-orang yang hidup seratus tahun sebelum kita.

Suatu siang di Dusun Dalangan, ketika duduk menyeruput kopi di meja komunal Dongeng Kopi. Angin berhembus sepoi-sepoi, membawa aroma rumput berpadu dengan sedikit asap dari dapur tetangga. Bau ikan asin digoreng dan terasi. Sepertinya mau nyambel.

Di samping meja kami kayu nampak dua benda yang seharusnya tidak perlu disandingkan tapi justru karena bersanding itulah keduanya jadi cerita. Sebuah mesin ketik tua, merek royal, badannya warna putih tulang dengan beberapa tuts yang sudah kusam, di sebelahnya, sebuah laptop tipis yang layarnya masih menyala redup, menampilkan dokumen yang belum selesai ditulis.

Sang Tuan Rumah, seorang perempuan yang juga membikinkan kopi, melihat kami memandangi keduanya. Ia tersenyum.

“Yang tua masih bisa dipakai. Yang baru lebih cepat. Tapi kalau mau menulis yang serius, saya masih suka yang tua.”

Kami tidak langsung menjawab. Kami menyeruput kopi. Dan dalam tegukan itu, ada pertanyaan yang terbersit: apa yang membuat dua benda dari era yang berbeda begitu serupa, sampai bisa duduk berdampingan tanpa canggung?

Lahir dari dentangan

Mesin ketik pertama yang benar-benar masuk ke pasar lahir dari tangan Christopher Latham Sholes, seorang editor surat kabar dari Wisconsin, Amerika Serikat. Tahun 1868, ia mematenkan penemuannya. Enam tahun kemudian, Remington, perusahaan yang lebih dikenal pembuat senapan kemudian memproduksinya secara massal.

Ada ironi di sana: alat yang kemudian dipakai untuk menulis puisi, surat cinta, dan manifesto perubahan, pertama kali diproduksi oleh pabrik senjata.

Mesin itu berisik. Setiap tuts ditekan, ada bunyi klik yang tegas, diakhiri dengan dentang lonceng kecil ketika baris penuh dan kepala mesin harus disorong kembali ke kiri. Bunyi yang ritmis. Bunyi yang hidup. Di kantor-kantor redaksi, suara mesin ketik yang bersahutan seperti orkestra kecil yang tidak pernah lelah berlatih.

Hemingway mengetik di mesin ketik Royal. Pramoedya Ananta Toer menulis Bumi Manusia di balik jeruji penjara, dengan mesin ketik butut yang suaranya terdengar sampai ke sel sebelah. Surat-surat penting, pidato kemerdekaan, puisi yang mengubah cara orang memandang dunia semua lahir dari bunyi dentang itu.

Mesin ketik di Dalangan yang jumlah enam itu tidak berbeda jauh. Ia punya bekas-bekas tinta di sekitar tutsnya. Pita hitam yang mungkin sudah lama tidak diganti. Tapi ia masih tegak. Masih punya bobot. Masih terasa seperti benda yang serius.

Keyboard Selain QWERTY ternyata pernah ada

Mengapa QWERTY tetap tinggal

Pertanyaan yang paling sering muncul ketika orang tahu sejarah keyboard: kenapa susunan QWERTY dipertahankan sampai sekarang? Bukankah ada susunan yang lebih efisien?

Ada.

Dvorak lebih ergonomis secara teori huruf-huruf yang paling sering dipakai diletakkan di baris tengah, jari tidak perlu bergerak jauh. August Dvorak, seorang profesor pendidikan dan psikologi, melihat bahwa tata letak QWERTY dirancang untuk menghambat kecepatan mengetik agar batang mekanik mesin tik tidak saling menyangkut, bukan untuk kenyamanan pengguna. Sesungguhnya tata letak ini, jari pengetik tidak perlu banyak berpindah baris, sehingga mengurangi kelelahan dan meningkatkan kecepatan mengetik hingga dua kali lipat dibandingkan QWERTY

Tapi QWERTY sudah terlanjur mendarah daging. Jutaan orang sudah belajar mengetik dengan susunan itu. Menggantinya berarti mengulang dari nol.

Sholes merancang QWERTY bukan untuk kecepatan, melainkan untuk mencegah batang-batang huruf mesin ketik saling bertabrakan ketika pengetik terlalu cepat. Sebuah solusi teknis untuk masalah mekanis yang sudah lama tidak ada. Tapi solusinya bertahan.

Ini yang para sejarawan teknologi sebut path dependence ketergantungan pada jalur. Keputusan di masa lalu membentuk apa yang terasa “normal” hari ini, bahkan ketika alasan aslinya sudah tidak relevan.

Jari kita, setiap hari, masih mengikuti jalur yang dirancang untuk mencegah batang besi bertabrakan. Sebuah masalah yang sudah seratus lima puluh tahun tidak ada lagi.

Kami ingat lagi meja di Dalangan itu. Mesin ketik dan laptop. Susunan huruf di keduanya persis sama. Q-W-E-R-T-Y di baris atas. A-S-D-F di baris tengah. Jari yang menekan tuts mesin ketik itu bergerak dengan pola yang sama persis dengan jari yang mengetik di laptop tipis di sebelahnya.

Dua benda. Satu bahasa.

Mesin ketik yang tidak pernah benar-benar pergi

Ketika komputer pribadi mulai masuk ke rumah-rumah pada tahun 1980-an, banyak yang memprediksi mesin ketik akan punah sepenuhnya. Dan memang, pabrik-pabrik besar berhenti memproduksinya.

Tapi ia tidak benar-benar pergi.

Di kalangan penulis, mesin ketik justru mengalami kebangkitan kecil yang sungguh-sungguh. Bukan karena nostalgia semata. Tapi karena mesin ketik menawarkan sesuatu yang tidak bisa diberikan layar: ketidakmungkinan untuk menghapus.

Ketika mengetik di mesin ketik, tidak ada backspace. Tidak ada undo. Kata yang sudah tercetak di kertas adalah kata yang harus dipertanggungjawabkan. Ada keberanian berbeda yang tumbuh dari sana keberanian untuk menyelesaikan kalimat, bukan terus merevisinya.

Tom Hanks, yang dikenal mengoleksi ratusan mesin ketik, pernah berkata bahwa mengetik di mesin ketik membuatnya merasa benar-benar hadir dalam proses menulis. Bukan sekadar memindahkan teks dari kepala ke layar.

Perempuan di Dalangan itu mungkin tidak tahu kalau Tom Hanks mengoleksi ratusan mesin ketik dan punya alasan mengapa masih menulis dengan mesin ketik. Tapi ia mengatakan hal yang sama dengan cara yang lebih sederhana: kalau mau menulis yang serius, saya masih suka yang tua.

Menelusuri jejak sejarah susunan keyboard QWERTY, mesin ketik Royal tua, dan proses kreatif menulis ditemani secangkir kopi di joglo Dongeng Kopi.
Perempuan Bernama Ayuri Murakabi pencerita mesinketik di Dongeng Kopi

Secangkir kopi dan dua perkakas untuk mengetik

Di Dongeng Kopi, kami terbiasa melihat orang datang dengan laptop. Mereka membukanya, meletakkannya di meja, lalu mengetik kadang sambil memesan kopi dulu, kadang langsung tenggelam dalam layar sebelum kopi mereka datang.

Yang menarik bukan laptopnya. Yang menarik adalah caranya mereka mengetik di sini berbeda dengan cara mereka mengetik di kantor. Lebih lambat. Lebih sering berhenti. Lebih sering memandang ke arah lain ke cangkir, ke langit-langit joglo, ke arah jalan, ke arah cakrawala jauh memandang kerlap kerlip di Abhayagiri Wihara, ke arah orang yang duduk di meja sebelah sebelum kembali ke layar.

Seolah ruang ini memaksa mereka untuk hadir dulu, baru menulis. Bukan sebaliknya.

Kami kira mesin ketik bekerja dengan cara yang mirip. Ia lambat, jadi pengetiknya harus berpikir lebih dulu sebelum menekan. Ia berisik, jadi ada ritme yang tercipta ritme yang mengingatkan bahwa menulis adalah kerja fisik, bukan hanya kerja pikiran.

Laptop membuat kita lebih cepat. Mesin ketik membuat kita lebih sadar. Keduanya mungkin sama-sama dibutuhkan, tergantung apa yang sedang ingin kita tulis dan seberapa serius kita ingin menulisnya.

Dan kopi? Kopi hadir di keduanya. Di meja Hemingway di Paris, di bawah atap joglo Dongeng Kopi. Ia tidak memihak siapapun. Ia hanya menemani.

Satu warisan yang kita bagi

Q. W. E. R. T. Y.

Enam huruf pertama di baris atas keyboard Anda. Dirancang oleh seorang editor surat kabar dari Wisconsin untuk mencegah batang besi bertabrakan di dalam mesin yang sudah tidak ada lagi.

Dan setiap hari, tanpa sadar, jari Anda mengikuti warisan itu di laptop kantor, di tablet, di ponsel yang layarnya hampir retak. Sama persis dengan jari perempuan di Dalangan ketika ia menekan tuts mesin ketik hitam legamnya di siang yang sepi itu.

Ada hal-hal yang bertahan bukan karena sempurna, tapi karena sudah menjadi bagian dari cara kita bekerja dan berpikir. Mesin ketik berganti wujud. Tapi tuts-tutsnya tinggal.

Dan selama jari-jari kita masih bergerak mengeja, ada bagian dari Sholes, dari Pramoedya, dari perempuan di Dalangan, dan dari semua orang yang pernah mengetik dengan sungguh-sungguh yang ikut hadir bersama kita.

Mungkin itulah kenapa mengetik, dengan alat apapun, terasa seperti percakapan yang tidak pernah benar-benar selesai.

Seruput kopinya dulu. Baru lanjut menulis.