Dongeng Kopi Terus Melawan Arus Seperti Ikan

Menolak seragam! Simak alasan Dongeng Kopi melawan arus industri kopi modern lewat racikan kopi rempah tradisi dan ruang joglo yang hidup.
Deret buku di TB Alimin di Dongeng Kopi ada judul Melawan Arus

Soal melawan arus, kami mengakui terang-benderang bahwa kami memang salah satu penganutnya yang teguh. Ini bukan sekadar perkara genit ingin tampil berbeda. Bagi kami, ini adalah sebuah pewarisan keyakinan yang telah lama berakar dalam sanubari: bahwa keseragaman adalah pertanda awal dari kelesuan berpikir, dan perlawanan kultural adalah bukti paling sahih bahwa nadi kehidupan kita masih berdenyut.

Romansa Kopi Rempah dan Gugatan atas Langgam Barat

Kala pertama kali Dongeng Kopi membuka pintu bagi publik sekitar 2014, kami datang dengan sebuah perkawinan rasa yang janggal, bahkan dianggap menodai pakem di mata banyak orang: kopi dan rempah. Jagat kedai kopi pada masa itu tengah larut dan tunduk pada langgam barat yang bersih, klinis, dan steril dengan kiblat sangat Italia, sangat mengagungkan espresso murni yang presisi, kucuran susu dingin yang diatur suhunya, tanpa ruang bagi kayu manis yang mengepul hangat, pun tanpa jahe yang menggigit lidah.

Kami dicibir. “Tidak sesuai standar internasional,” kata mereka sinis. Namun, kami memilih tetap tegak lurus dan maju jalan terus. Sebab, kami percaya sepenuhnya bahwa Nusantara menyimpan kecerdasan rasa dari para leluhur yang tidak perlu mengemis izin atau stempel dari Eropa untuk sekadar diakui keabsahannya.

Lalu, sejarah mencatat datangnya gelombang baru: era single origin. Sebuah musim ketika para barista di balik meja bar berlomba memamerkan koleksi biji kopi dari lereng-lereng gunung yang namanya jarang terdengar, namun dipuja karena prestisiusnya yang dianggap tak tertandingi. Untuk sesaat, dalam riuh rendah balapan banyak banyakan itu, kami pun sempat terseret ke dalam parade arak arakan punya banyak pilihan, yang kami ingat saat itu adalah Kopi Kina yang menjadi juaranya.

Namun, romansa itu tidak lama. Kami memutar haluan dengan radikal, memilih menyajikan apa yang kami sebut sebagai multiple origin. Pada tahun 2017 kami mempertemukan biji-biji kopi dari berbagai penjuru mata angin, mencampurnya dan menamainya dengan babad, floklore, mitologi, epos, dongeng dan cerita cerita rakyat setempat bersanding dalam satu cangkir yang sama. Kembali, cibiran mampir ke kedai kami: dianggap tidak jelas arahnya. Namun justru di titik itulah, posisi filosofis kami menjadi paling benderang. Kami menolak mengotak-kotakkan rasa dalam sekat eksklusivitas.

Membaca Kebudayaan Bersama Geertz dan Koentjaraningrat

Para pemikir kebudayaan sesungguhnya sudah lama mewanti-wanti bahwa keseragaman yang dipaksakan adalah musuh sejati bagi kreativitas. Clifford Geertz, antropolog yang bertahun-tahun menyelami kehidupan masyarakat Jawa, menyimpulkan bahwa kebudayaan yang hidup justru lahir dari pertarungan makna yang tak akan pernah selesai bukan dari konsensus monoton yang dijejalkan oleh pusat kekuasaan.

Setali tiga uang, Koentjaraningrat dalam kajian panjangnya mengenai manusia Indonesia, mengingatkan bahwa kekayaan hakiki Nusantara justru terletak pada keberagaman lokal yang tak akan pernah bisa dilebur dalam satu cetakan tunggal. Kami memang tidak mengutip teori-teori rumit ini di balik meja kasir sewaktu melayani pesanan, tetapi kami menghidupkan api semangat yang serupa di setiap jengkal ruang.

Bayangkan keseragaman yang kita dapati sedari bangku taman kanak-kanak hingga kursi sekolah menengah atas, bahkan bila kemudian seseorang memilih berseragam di akademi kedinasan lalu mengabdi di instansi pemerintah, setiap hari hidupnya adalah orkestrasi keseragaman. Seragam pakaiannya, seragam cara berpikirnya, hingga seragam lengkung senyumnya yang dilatih sedemikian rupa hanya untuk menyembunyikan otentisitas diri sendiri.

Bukankah hidup yang terlalu seragam dan patuh itu adalah semacam kematian eksistensial yang berpakaian rapi? Maka dari itu, kami hadir di tengah masyarakat bukan sekadar sebagai tempat minum kopi biasa, melainkan sebagai penggugat resmi atas kelesuan massal tersebut.

Arsitektur Joglo dan Kebebasan

Oleh sebab itu, cangkir-cangkir kami tidak pernah seragam satu dengan yang lain sebab bagi kami, identitas tidak perlu berkompromi dalam kesamaan bentuk fisik. Cara menyapa tamu pun sengaja dibiarkan berbeda dari barista ke barista, karena kepribadian yang jujur adalah modal kultural, bukan sebuah rintangan operasional.

Percakapan di ruang kami bisa melompat liar tak terduga; dari urusan komoditas kopi ke filosofi wayang kulit, dari lantunan tembang lawas ke analisis berita halaman utama semalam. Ini bukan sebuah kekacauan manajemen, melainkan sebuah ruang kebebasan yang kami ugemi.

Kendati kedai-kedai kopi modern hari ini berlomba-lomba tampil dengan estetika gaya industrial dengan sekat besi, ekspos beton, dan lampu Edison yang tergantung menjuntai kami dengan sadar memilih bersetia pada Joglo. Kami merawat kayu tua  sarat cerita. Bagi kami, menatap susunan atap kuno mengingatkan tentang keintiman tanah dan petuah para leluhur.

Seth Godin, begawan pemikir pemasaran yang getol mengutuk mediokritas industri, meyakini bahwa dalam dunia yang bising oleh hal-hal seragam, hanya keberanian untuk tampil beda secara ekstrem yang layak mendapatkan tempat di dalam ingatan publik. Kami tentu tidak menjadi besar semata-mata lantaran semalaman membaca buku Godin. Kami hidup dan bertahan belasan tahun karena meyakini prinsip itu secara naluriah semenjak awal berdiri.

Soal asosiasi korporat maupun standardisasi baku industri pun demikian: kami enggan diatur-atur oleh sertifikasi yang kaku. Ini bukan lantaran keangkuhan yang buta, melainkan karena basis keputusan tertinggi kami berada pada keinginan tulus para pelanggan. Mereka datang kemari bukan demi selembar kertas sertifikat yang dipajang di dinding, melainkan karena rindu pada rasa otentik dan kehangatan jiwa.

ikan melawan arus, sumber dari idn times

Makna Filosofis Ikan Menantang Arus

Maka, bila hari ini kami dinilai terus-menerus melawan arus, sesungguhnya itu adalah sebuah maklumat bahwa kami masih sepenuhnya hidup; hidup dengan gelegak gairah yang penuh. Sebagaimana para nelayan tua di pesisir paham betul mengenai hukum alam: ada filosofi mendalam di balik kawanan ikan yang memilih berenang menantang arus deras.

Bagi mereka yang mengerti, pergerakan menentang arus itu adalah simbol keteguhan memegang prinsip hidup dan integritas diri. Mengikuti arus air yang tenang hanyalah cara pasrah untuk menyerah pada keadaan lingkungan. Menentang arus melambangkan kekuatan karakter untuk tetap memeluk erat keyakinan, bahkan ketika mayoritas suara di luar sana berteriak tidak setuju.

Di sisi lain, benturan keras dari arus yang kuat sejatinya adalah instrumen alam untuk menempa pertumbuhan diri; hambatan tersebutlah yang membentuk mentalitas yang kuat, tangguh, dan tidak mudah goyah oleh perubahan zaman yang superfisial.

Ikan-ikan itu bergerak melawan arus dengan sebuah tujuan biologis yang konkret dan jernih: menuju tempat terbaik untuk bertelur demi merawat masa depan eksistensi mereka. Hal ini mengajarkan manusia sebuah pelajaran berharga untuk tetap fokus berjuang, berdarah-darah demi meraih impian utama, alih-alih hanyut tak tentu arah. Air yang mengalir ke bawah hanya akan membawa materi-materi pasif yang mati dan membusuk.

Sebaliknya, menentang arus menuntut kemandirian berpikir yang kritis, kreatif, dan emansipatoris. Dalam belantara kehidupan modern, kita dipaksa untuk cerdas memanfaatkan peluang dan situasi yang menjepit demi mencapai tujuan mulia. Kami telah membulatkan tekad: memilih menjadi ikan yang terus melawan arus itu. Dan kami tidak menyesal sedikit pun.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.