
Kelak, pada suatu hari nanti yang entah, akan ada sebuah cerita yang lahir dan abadi dari meja seduh Dongeng Kopi. Aku memberinya judul yang sederhana: Kisah Pria di Kedai Kopi. Nantinya, lakon ini akan menjelma menjadi tradisi lisan yang masyhur; sebuah hikayat tentang pelanggan yang merawat kesetiaannya dalam diam.
Di tengah riuhnya pertumbuhan kedai kopi di Jogja, ada sebuah kisah yang diceritakan dari mulut ke mulut. Kisah ini bercerita tentang seorang pria yang, meski bertahun-tahun telah berlalu, selalu datang menziarahi kedai yang sama setiap kali waktu Isya selesai ditunaikan.
Ritual Saban Isya dan Racikan Mustika Rasa
Pria itu selalu datang dengan wajah yang memancarkan kegembiraan purna. Saban malam, ia memesan secangkir kopi yang sama, sebuah menu andalan bernama Mustika Rasa.
Minuman ini bukanlah racikan sembarangan. Ia adalah kopi multiple origin yang lahir dari saling silang kombinasi tanah-tanah bentangan barat hingga ke timur, diproses dengan aneka rupa teknik yang rumit. Namun, di lidah pria itu, kerumitan tersebut selalu luruh menjadi kehangatan.
Ia sama sekali tidak pernah absen datang, sekalipun cuaca sedang tak bersahabat. Tak peduli kedai sedang sepi oleh hujan atau ramai oleh tawa, ia selalu menyempatkan diri mampir untuk membasahi kerongkongannya. Sangat setia dan amat loyal.
Mengenakan tas punggung usang yang selalu berisi laptop, ia kerap berbincang tentang apa saja bersama sang pemilik kedai. Kadang obrolan itu hanya berlangsung sebentar. Namun acap kali, percakapan tersebut mengalir deras hingga malam luruh, perlahan memasuki sepertiga waktu terakhirnya.
Jarak yang Tak Pernah Menjadi Pembatas
Kemudian pada suatu hari, kedai itu berpindah. Ia menepi semakin jauh ke arah timur, merapat ke Dusun Dalangan, hingga nyaris menyentuh garis batas provinsi.
Namun, secara mengejutkan, pria itu tetap datang. Ia duduk di meja komunal yang terasa masih asing, memesan kopi Mustika Rasa yang sama, dan dengan tekun menghidupi kebiasaan yang sama pula.
Pernah pada suatu malam, seorang pelayan baru yang keheranan memberanikan diri untuk bertanya. Ia penasaran, mengapa sang pria tetap setia datang sejauh itu, melintasi pekatnya jalanan kedai kopi di Jogja bagian timur.
Lelaki itu tersenyum tipis, membenarkan letak tas punggungnya, lalu menjawab perlahan.
“Saya bukan datang melulu untuk kopinya,” ucapnya tenang. “Saya datang karena kedai ini telah mengenal kebiasaan saya. Sebab kebiasaan hanya akan dipahami secara utuh oleh tempat yang setia menunggu.”
Kesetiaan Sebagai Sebuah Ingatan Tubuh
Jawaban itu menampar kami dengan kelembutan yang telak. Dari sosoknya kami belajar, sebab kesetiaan ternyata bukan melulu perkara perasaan yang menggebu-gebu.
Kesetiaan, sejatinya, adalah sebuah ingatan tubuh. Ia bersemayam pada langkah kaki yang selalu hafal jalan pulang, pada tangan yang tahu kapan sebuah pintu harus diketuk, dan pada sebuah tempat yang membuat seseorang merasa bahwa absen sehari saja telah serupa kehilangan yang amat nyata.
Mari merawat ingatan tubuhmu di Dalangan. Singgah, pesan Mustika Rasa, dan temukan rumahmu kembali di kedai kopi di Jogja ini.