Cangkir Kosong di Meja Seduh

Menyandur kisah dari Maroko tentang seni mengosongkan diri. Resapi filosofi secangkir kopi yang merawat ketenangan dan menampung kisah di Dongeng Kopi.

Belajar dari kisah Zawiyah di Maroko tentang seni mengosongkan diri dan cara merawat ketenangan melalui cerita.

Seperti cangkir kosong yang siap diisi oleh siapa saja, begitulah kami menjalani hari-hari di Dongeng Kopi Dalangan [Tautkan ke halaman Lokasi Kedai]. Sebuah cangkir yang senantiasa bersedia menampung apa pun: percakapan hangat, gelak tawa, keluh kesah, hingga cerita-cerita yang kadang pendek maupun panjang.

Karena itu, setiap kali secangkir kopi tersaji di hadapan tamu yang baru datang, sesungguhnya kami sedang mengosongkan cangkir itu kembali. Langkah ini biar membuat kami siap diisi dari satu meja ke meja lain, dari satu pengunjung ke pengunjung lain, oleh kisah-kisah yang terus berpindah, bertaut, lalu beranak-pinak.

Melalui ruang komunal inilah, kami mencoba menyelami filosofi secangkir kopi yang sesungguhnya. Barangkali, sebab itulah kami lebih mendaku sebagai seorang pengepul cerita.

Kulak Warta Adol Kanda: Seni Menjadi Pengepul Cerita

Cerita-cerita yang kami unggah saban hari pun tidak sepenuhnya milik kami, serta tidak sepenuhnya lahir dari kepala kami sendiri. Bisa jadi, ia adalah serpihan hidup seseorang yang tercecer di jalan panjang kehidupan. Bisa pula, ia merupakan saduran dari kisah lama yang dikemas kembali agar hadir di dalam ingatan orang-orang.

Ada cerita yang beredar secara lirih dalam percakapan terbatas, cerita di majelis-majelis kecil, cerita di sudut warung selepas tengah malam, atau kabar burung yang diusung oleh si Fulan maupun Fulanah.

Semuanya singgah sebentar di dalam jurnal Buku Daftar Hadir [Tautkan ke artikel Jilid Buku Daftar Hadir] kami, lalu kami kumpulkan sebelum kemudian dibagikan kembali kepada warga. Orang Jawa bilang, kulak warta adol kanda.

Kisah Kuno Maroko dan Rahasia Mengosongkan Diri

Soal cangkir kosong ini, ada sebuah kisah kecil yang kami nukil dari khazanah cerita di Maroko.

Konon, tersebutlah ada seorang murid dari seorang Syekh di sebuah Zawiyah. Ia bukanlah orang yang terlampau pandai. Namun, ia senantiasa tekun dan patuh kepada gurunya. Setiap kali menerima pelajaran baru, ia selalu berkata dengan jujur, “Aku belum paham. Aku belum paham.”

Waktu terus berjalan, hingga sang Syekh akhirnya wafat. Murid itu kemudian tumbuh menjadi lelaki biasa, tanpa kemasyhuran, tanpa pula keistimewaan yang layak dibanggakan.

Namun anehnya, orang-orang justru berdatangan dari tempat yang jauh hanya untuk duduk bersama dengannya. Tak seorang pun benar-benar mampu menjelaskan alasannya dengan logis. Mereka hanya berkata, “Di dekatnya, hati terasa begitu tenang.”

Bertahun-tahun kemudian, seseorang bertanya kepadanya, “Apa yang dahulu kerap dibisikkan oleh gurumu?”

Ia tersenyum pelan, lalu menjawab dengan lirih:

“Beliau berkata: kosongkan. Terus kosongkan. Sebab, yang datang mengisi itu bukan dari aku, dan bukan pula darimu.”

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.