Martabat Mandiri Secangkir Kopi

Menjaga martabat kemandirian ruang komunal dari secangkir ke secangkir. Intip rencana pembenahan kafe dengan ruang baca yang ramah anak di Dongeng Kopi.

Sepanjang kami membuka ruang komunal ini, satu perkara yang selalu kami jaga ialah martabat kemandirian. Kami tidak pernah mengedar proposal, tidak pula mengetuk pintu ke sana ke mari demi meminta bantuan agar fasilitas pendukung bisa berdiri.

Namun, bila ada tangan yang datang dengan niat baik untuk ikut menumbuhkan ruang bersama ini, kami pun pantang menolak. Selama hal tersebut tidak mencederai nilai-nilai yang sejak mula kami pegang teguh.

Sebab bagi kami, menerima uluran tulus juga bagian dari memuliakan orang lain yang ingin urun tangan agar ruang kecil ini terus hidup dan berkembang.

Kalau pun kami meminta tolong, bentuknya sangat sederhana. Kami hanya meminta doa, meminta dipayungi restu, atau berharap dagangan produk kopi bungkus [Tautkan ke halaman Roastery/Kopi Bungkus] kami sedikit lebih laris supaya selisih laba bisa diputar kembali untuk menambah berbagai kebutuhan yang berguna bagi banyak orang.

Oleh karena itu, setiap cangkir yang tandas dan setiap kopi bungkus yang dibawa pulang, sedikit banyak ikut menghidupi ruang bersama agar tetap menyala bagi siapa saja yang datang berkunjung.

Aturan Ruang dan Ikhtiar Halal

Perihal memakai ruang di Dalangan, Dongeng Kopi [Tautkan ke halaman Lokasi Kedai] tidak pernah membuat aturan bahwa pengunjung harus jajan sekian rupiah atau membayar nominal sekian.

Kami hanya meminta satu hal saja kepada warga, yaitu tidak membawa makanan dan minuman dari luar. Pembatasan ini murni kami lakukan demi merawat ikhtiar halal yang telah kami sandang bertahun-tahun lamanya.

Ikhtiar Fisik: Merancang Kafe dengan Ruang Baca

Belakangan, kami mulai merencanakan pembenahan ruang atas menjadi dua bagian terpisah. Kami ingin area indoor di sekitar meja bar dirombak menjadi kafe dengan ruang baca yang nyaman, bebas asap rokok, serta ramah anak.

Sementara itu, area rooftop di atas parkiran akan diperluas menjadi ruang khusus merokok (smoking area). Tentu saja semua rencana itu tidak serta-merta mak des, atau ujug-ujug jadi begitu saja.

Biayanya tidak kecil, sehingga prosesnya pun mesti berjalan pelan-pelan. Dana tersebut dikepul dari secangkir ke secangkir, dari seratus gram ke seratus gram kopi bungkus yang kami kumpulkan sedikit demi sedikit.

Jika ikhtiar itu kelak terwujud, setidaknya buku-buku koleksi kami jadi bisa ditata dengan lebih rapi dan tertata. Begitu diambil secara acak oleh warga, tumpukan literatur tersebut tidak akan jatuh berantakan lagi.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.