
Tiap malam, di meja-meja panjang di Dalangan, riuh kembali tumbuh seperti rumpun suara yang baru saja disiram waktu. Orang datang dan pergi mbanyu mili, mengalir seperti air yang tidak pernah benar-benar berhenti. Langkah-langkah mereka bersilang, kursi-kursi ditarik dan didorong, cangkir-cangkir bertemu bibir, lalu kembali ke meja membawa sisa hangat yang perlahan menurun.
Ada yang singgah sebentar, seperti burung yang hanya mampir di dahan sebelum terbang lagi. Ada pula yang duduk lama, sampai kopi di cangkir tinggal ampas cerita pekat, gelap, dan menyimpan jejak percakapan yang tak selalu selesai dalam satu malam. Kadang mereka memesan lagi, dan lagi, sampai cangkir-cangkir kosong menjadi saksi kecil bahwa waktu telah berjalan jauh tanpa terasa.
Di meja yang satu, seseorang bercerita tentang porang umbi yang dulu dianggap remeh, kini menjadi bahan percakapan yang penuh hitung-hitungan. Di meja lain, orang menyinggung orang: tentang tabiat, tentang tingkah, tentang kabar yang berkelindan dari satu telinga ke telinga yang lain. Ada pula yang membicarakan dalang dan lakon, menimbang cerita wayang seperti menimbang nasib manusia sendiri siapa yang memainkan peran, siapa yang sekadar digerakkan oleh tangan tak terlihat.
Dan tentu saja, seperti lazimnya percakapan malam, ada pula cerita tentang perang. Entah perang yang benar-benar terjadi di dunia yang jauh, atau perang yang berlangsung diam-diam di dalam kepala sendiri: pertentangan antara keinginan dan kenyataan, antara rencana dan keadaan.
Semua kisah itu bercampur menjadi warna-warna percakapan, seperti cat yang bertemu di satu palet besar kehidupan. Dari petang yang mulai meremang sampai malam yang memanjang, suara-suara itu tumbuh, saling bertaut, lalu perlahan mereda.
Namun Dalangan tidak selalu seperti itu.
Jika pagi dan siang tiba, tempat ini seolah mengenakan wajah yang lain. Riuh yang semalam masih tinggal di udara perlahan mengendap, seperti debu yang akhirnya menemukan tempat jatuhnya. Yang tersisa adalah ketenangan yang hampir terasa seperti jeda panjang setelah sebuah lagu selesai dimainkan.
Pada jam-jam seperti itu, orang datang membawa sunyi masing-masing.
Ada yang duduk dengan buku terbuka di hadapannya. Halaman demi halaman dibalik perlahan, seperti seseorang yang sedang menjaga agar waktu tidak menjadi terlalu berisik. Huruf-huruf menjadi teman diam yang setia, dan dunia di luar halaman seakan bergerak lebih lambat dari biasanya.
Di sudut lain, seseorang duduk dengan headset tersumpal di telinga. Ia larut dalam lagu yang hanya ia dengar sendiri. Barangkali di dalam kepalanya sedang berlangsung konser kecil yang tidak bisa dihadiri siapa pun selain dirinya.
Di satu meja, dua orang berbicara pelan, hampir seperti berbisik. Kata-kata mereka tidak ingin melampaui jarak yang terlalu jauh, seakan percakapan itu hanya milik mereka berdua dan tidak perlu diketahui oleh dunia yang lebih luas.
Sementara di meja lain, seseorang duduk sendirian. Ia menatap cangkir kopi yang sudah dingin. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Barangkali ia sedang menyusun rencana, barangkali sedang mengenang sesuatu yang tidak mudah dilupakan.
Sesekali ada yang datang tergesa-gesa. Langkahnya cepat, suaranya singkat. Ia memesan kopi untuk dibawa pulang—bukan satu atau dua, tetapi lebih dari tujuh gelas sekaligus. Setelah pesanan selesai, ia segera pergi lagi, seperti seseorang yang hanya singgah untuk mengambil sedikit hangat sebelum kembali ke jalan.
Begitulah Dalangan hari ini.
Siang yang teduh.
Malam yang gaduh.
Di tempat ini, cerita datang dari banyak kepala, duduk sebentar di meja yang sama, lalu pulang bersama langkah masing-masing. Seperti air yang mengalir di sungai kehidupan: sebentar berkumpul di satu tikungan, lalu kembali berpisah menuju muaranya sendiri-sendiri.