Dongeng Kopi di Dalangan: Tentang Jarak dan Kabar yang Terlambat

Pada akhir pekan kemarin, tepatnya Minggu sore yang perlahan merambat menuju malam, Dalangan berada dalam suasana yang tenang, hampir seperti halaman rumah selepas hujan. Tidak riuh, tidak pula lengang benar. Kursi-kursi di Dongeng Kopi terisi kira-kira oleh lima puluh orang yang datang tandang. Jumlah yang bagi sebuah kedai sebenarnya terbilang biasa: tidak terlalu padat, namun cukup untuk membuat percakapan tetap mengalir seperti air di parit desa.

Di antara mereka tampak wajah-wajah lama. Wajah yang dulu begitu akrab, lalu menghilang pelan-pelan bersama bergantinya musim. Ada yang dahulu hampir setiap hari mampir. Bahkan kadang sehari bisa dua kali datang; pagi menyesap kopi, malam kembali hanya untuk menutup hari dengan obrolan ringan.

Ketika kami menyapa dan menanyakan kabar, jawaban yang datang hampir serupa nadanya. Mereka baru saja tahu bahwa Dongeng Kopi kini berpindah ke Dalangan. Kabar itu, kata mereka, sampai lewat unggahan yang dibagikan seorang teman. Memang baru beberapa pekan ini kami kembali rajin menyalakan cerita di laman-laman media sosial setelah jeda yang cukup panjang.

Padahal jika dihitung dengan cermat, hampir setahun lamanya kami sudah menjalankan kegiatan sepenuhnya di sini di Dalangan, tidak jauh dari Candi Kedulan yang tua dan teduh. Bahkan bangunan tempat kami menyalakan mesin kopi itu telah berdiri lebih lama lagi. Tiga tahun usianya. Dan bila kalender tidak keliru menghitung, tepat bulan Mei besok genap empat tahun sejak tempat ini pertama kali berdiri.

Namun dahulu Dalangan belum sepenuhnya menjadi rumah singgah. Ia lebih sering menjadi dapur bagi biji-biji kopi yang disangrai perlahan. Di sinilah aroma panggangan menguar, kelas-kelas kecil digelar, dan beberapa agenda sederhana dijalankan. Tempat ini hidup, tetapi belum seramai hari-hari Dongeng Kopi di Umbulmartani dahulu, tempat yang pernah kami kenalkan dengan sebuah kalimat kecil yang cukup kami sayangi: selaksa cerita lagi dari kaki Merapi.

Sore itu, seorang pelanggan bercerita agak panjang. Nada suaranya santai, seperti seseorang yang membuka kembali album kenangan lama. Ia mengatakan bahwa hampir semua lokasi Dongeng Kopi pernah ia singgahi kecuali satu: yang berada di Umbulmartani, dekat Jalan Kaliurang. Menurutnya tempat itu terlalu jauh dari rumahnya.

Kami hanya mengangguk, membiarkan ceritanya mengalir sebagaimana mestinya.

Namun ketika percakapan berjalan lebih jauh, barulah kami tahu sesuatu yang sedikit mengejutkan. Rumahnya ternyata tidak jauh sama sekali dari Dalangan. Bahkan bisa dibilang bertetangga desa. Ia tinggal di Kadisoka, Purwomartani—hanya dipisahkan oleh dua garis jalan yang membelah wilayah: Jalan Cangkringan yang ramai, dan jalan tol yang memanjang menuju gerbang Purwomartani.

Satu kecamatan. Satu langit yang sama.

Di situlah kami tiba-tiba merasa sedang mendengar sebuah peribahasa yang belum pernah ditulis dalam buku mana pun: kadang yang terasa jauh bukanlah tempatnya, melainkan kabarnya yang tak sampai.

Sebab jarak, rupanya, sering kali hanya perkara informasi yang terlambat datang. Orang bisa tinggal berdekatan, namun tetap merasa berjauhan bila cerita tidak berjalan.

Dari percakapan sederhana itu kami seperti diingatkan kembali bahwa sudah cukup lama Dongeng Kopi tidak rutin menyalakan kisah-kisah kecil di ruang maya. Sampai-sampai beberapa pelanggan lama bahkan tidak mengetahui bahwa rumah kami kini sepenuhnya berada di Dalangan.

Padahal sebuah kedai, seperti juga sebuah rumah tidak hanya hidup oleh pintu yang terbuka, tetapi juga oleh kabar yang terus berjalan.

Karena itu mulai sekarang kami akan mencoba kembali menyalakan berita dari tempat ini. Tidak muluk-muluk. Hanya tanda-tanda kecil agar orang tahu bahwa rumah ini masih ada.

Minimal dua kali sehari: ketika pintu dibuka, dan ketika lampu dipadamkan.

Sebuah isyarat sederhana bahwa hari telah dimulai, dan bahwa hari telah selesai.

Besok pagi kami akan memulainya kembali.

Dalangan akan menunggu dengan kursi yang sabar, meja yang setia, dan secangkir kopi yang selalu siap menjadi alasan bagi siapa saja untuk datang.

Sampai jumpa di sini.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.