Senja, Secangkir Kopi, dan Cerita yang Tak Pernah Berani Diceritakan

Dua anak muda duduk berhadapan di meja teras pada malam hari, berbincang serius di bawah lampu taman yang temaram Dongeng Kopi

Menjelang petang, ketika cahaya turun perlahan seperti tirai yang ditarik dari langit, seseorang duduk dengan secangkir kopi di tangannya. Kopi itu disebut korikuga—kopi dari kebun warga. Biji-bijinya dipetik dari kebun kecil milik Pak Sukiman di lereng Merapi. Tanahnya subur oleh abu gunung, dan seperti banyak kebun rakyat lain di Jawa, kopi di sana tumbuh lebih sebagai kisah hidup daripada sekadar komoditas.

Uap tipis naik dari permukaan cangkir. Angin sore yang sepoi-sepoi membuatnya cepat menghilang. Kursi besi yang sejak siang menyimpan panas matahari mulai mendingin sedikit demi sedikit. Senja memang punya cara sendiri untuk membuat segala sesuatu berjalan lebih lambat.

Pada waktu-waktu seperti inilah pikiran sering berjalan lebih jauh daripada kaki. Ia menyeberangi jarak, menyusuri lorong-lorong ingatan, lalu berhenti di tempat yang bahkan tidak kita rencanakan untuk didatangi. Barangkali itulah yang sedang terjadi pada orang yang duduk sambil membuka halaman demi halaman buku di tangannya.

Membaca, sering kali, memang bukan sekadar kegiatan melihat huruf. Ia adalah perjalanan. Dari satu kalimat kita bisa melompat ke kota lain, ke masa lain, bahkan ke suasana batin yang sama sekali berbeda.

Entah bagaimana, dari sela-sela halaman yang dibacanya itu tiba-tiba muncul bayangan tentang Floridina. Nama itu terasa seperti gema dari sebuah cerita lama—sesuatu yang pernah lewat, lalu kembali muncul tanpa diminta. Seperti ingatan yang tiba-tiba muncul ketika kita membuka lembar lama sebuah buku.

Dan dari sana, pikiran melompat lagi pada sebuah karya: Penembak Misterius, novel karya Seno Gumira Ajidarma. Buku itu pernah mencatat sebuah masa yang tidak mudah dilupakan dalam sejarah sosial kita.

Dalam cerita itu, kekerasan tidak selalu hadir dengan wajah yang gaduh. Ia tidak selalu datang bersama teriakan atau dentuman senjata. Justru sering kali ia muncul dengan cara yang sangat tenang—terlalu tenang, bahkan.

Ia datang seperti kabar angin.

Bergerak dari satu mulut ke mulut yang lain. Dibicarakan dengan nada setengah berbisik. Dan tiba-tiba menghilang ketika ada seseorang yang dianggap tidak tepat mendengar cerita itu.

Orang-orang pada masa itu belajar berbicara dengan hati-hati. Bukan karena mereka tidak tahu apa yang terjadi, tetapi karena mereka tahu bahwa tidak semua hal aman untuk diucapkan dengan suara keras.

Kekuasaan pada masa itu terlihat jelas bentuknya. Ia berdiri tegak seperti bangunan besar yang bayangannya jatuh panjang ke mana-mana. Orang tahu dari mana perintah datang, dan kepada siapa ketakutan harus diarahkan.

Namun waktu selalu bekerja dengan caranya sendiri.

Bentuk kekuasaan yang dulu terasa keras dan kaku perlahan berubah. Ia tidak lagi selalu tampil sebagai komando yang terang-terangan. Ia belajar menjadi lebih lentur. Lebih cair. Lebih sulit dikenali.

Hari ini, kekuasaan bisa hadir dalam banyak rupa. Ia dapat tampil sebagai aturan yang tampak wajar. Sebagai kebijakan yang kelihatannya rasional. Atau sebagai jaringan hubungan yang rumit antara negara, aparat, dan pasar.

Hubungan-hubungan itu sering kali begitu rapat sehingga batas di antaranya menjadi kabur. Seperti simpul tali yang sudah terlalu sering ditarik dari berbagai arah.

Dalam situasi seperti itulah cerita-cerita lama terasa tidak pernah benar-benar selesai. Ia terus hidup bukan semata karena peristiwanya, melainkan karena pola yang berulang.

Sejarah sering berubah wajah, tetapi wataknya kadang tetap sama.

Barangkali karena itu membaca karya-karya lama sering terasa seperti bercermin. Kita menemukan masa lalu, tetapi pada saat yang sama kita juga melihat bayangan masa kini.

Seseorang yang duduk di kursi besi itu mungkin sedang memikirkan hal-hal seperti ini. Atau mungkin tidak sepenuhnya demikian. Barangkali ia hanya sedang menikmati kopi dari kebun Pak Sukiman sambil membiarkan pikirannya berjalan tanpa arah.

Namun senja selalu punya kemampuan mengundang renungan.

Cahaya di langit perlahan berubah menjadi pucat. Burung-burung kembali ke sarangnya. Jalanan yang sejak siang ramai mulai sedikit lengang.

Seseorang itu meneguk sisa kopi di cangkirnya.

Rasanya hangat, dengan sedikit jejak pahit yang tertinggal di lidah—seperti banyak hal lain dalam hidup.

Lalu buku di tangannya ditutup perlahan.

Pada saat seperti itu, sering muncul kesadaran kecil yang tidak selalu kita ucapkan kepada siapa pun: bahwa dalam kehidupan sehari-hari, yang paling lama menetap sering bukanlah peristiwa-peristiwa besar yang ramai diberitakan.

Bukan pula kejadian-kejadian yang penuh drama.

Yang paling lama tinggal justru hal-hal yang lebih sunyi.

Sebuah bisikan yang pernah kita dengar.
Sebuah cerita yang disampaikan dengan setengah hati.
Atau sebuah rasa yang kita simpan sendiri karena tidak pernah benar-benar menemukan tempat untuk dibicarakan.

Senja akhirnya selesai.

Namun seperti kopi yang menyisakan jejak rasa di dasar cangkir, beberapa pikiran sering tetap tinggal lebih lama daripada cahaya yang sudah pergi.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.