
Awal April ini genap satu tahun kami sepenuhnya buka di Dalangan, sebuah kampung yang tenang di wilayah Tirtomartani, di bagian timur Kabupaten.
Setahun yang lalu, menjelang malam takbiran di akhir Maret, kami menutup pintu kedai di Umbulmartani setelah mengarungi tujuh tahun.
Rasanya masih segar dalam ingatan puasa kemarin. Malam kami tutup sungguh biasa saja, tanpa seremoni gegap gempita. Hanya beberapa gelas kopi terakhir, obrolan singkat dengan kawan-kawan yang datang, dan perasaan seperti sedang menutup satu bab kecil dalam perjalanan.
Keesokan harinya, tepat tanggal 1 April, bab baru di timur laut Jogja dimulai.
Dongeng Kopi di Dalangan dibuka sepenuhnya. Setelah sebelumnya hanya menjadi ruang transit kelas kopi, agenda agenda tentatif dan ruang orang orang menjajal kopi selesai panggang bareng Sasana Krida Dongeng Kopi Roastery.
Tidak ada penanda apa apa. Kami hanya membuat sebuah open house halal bihalal sederhana di lantai dua. Siapa saja boleh datang. Duduk sebentar, bersalaman, menyeruput kopi, mencicip kue kue di meja dan berbagi cerita seperti biasanya.
Sejak hari pertama itu, Dalangan perlahan memberi warna tersendiri bagi Dongeng Kopi.
Kampung ini tenang. Jalanannya tidak padat kendaraan, malam terasa turun lebih cepat, dan suara alam sering terdengar lebih jelas daripada suara mesin. Ada hari-hari ketika bunyi paling keras yang terdengar hanyalah derik suara jengkerik, dedaunan yang saling bergesek, atau hembusan angin yang lewat di sela-sela pepohonan.

Sekilas, Dalangan tampak seperti pinggiran kabupaten yang biasa.
Namun jika sedikit melacak sejarah masa lampau, wilayah ini sebenarnya berdiri di tengah pusat kota yang ramai.
Tidak jauh dari sini berdiri beberapa situs candi: Sambisari, Kedulan, Bromonilan, dan Duri. Keempat situs ini sering disebut dalam kajian arkeologi sebagai bagian dari lanskap budaya yang saling berkaitan. Beberapa peneliti bahkan melihatnya sebagai semacam penanda ruang dalam tata wilayah Jawa kuno mungkin semacam lingkar batas yang dahulu mengelilingi pusat kekuasaan dengan sebutan Catur Lokapala; empat pelindung atau penjaga dunia.
Antara Purwomartani dan Tirtomartani memang dikenal sebagai wilayah penting dalam sejarah Jawa awal. Dalam sejumlah kajian, kawasan ini sering dihubungkan dengan pusat kerajaan Medang kuno. Mamratipura, Ibu kota kerajaan yang kini hanya tersisa dalam prasasti, reruntuhan candi, dan berbagai spekulasi para sejarawan.
Jejak kejayaan itu tentu tidak selalu tampak dalam kehidupan sehari-hari masyarakat sekarang.
Sawah tetap menjadi sawah – meski sekarang sebagian hilang dimakan proyek jalan tol. Jalan kampung tetap tidak yang penuh raung kendaraan. Anak-anak masih bermain bola di lapangan kecil di tepian seperti di desa-desa lain. Namun di banyak tempat seperti ini, sejarah sebenarnya tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berubah bentuk menjadi cerita.
Kadang-kadang, cerita itu muncul dari hal-hal yang tampak sangat sederhana.
Selama setahun terakhir di Dalangan, pengalaman paling berat yang kami rasakan justru datang dari sesuatu yang hampir tidak pernah kami pikirkan sebelumnya: angin kencang.
Kedai kami memiliki meja seduh di lantai dua. Tempatnya berupa pendapa terbuka yang menghadap ke hamparan genteng genteng pemukiman. Dari sana mata bisa melihat jauh sampai ke birunya Merapi yang nampak gagah di utara, pandangan jalan bebas hambatan koridor Jogja Solo di sisi barat, dan jika malam kerlap kerlip perbukitan Boko yang kini banyak sekali Vila berdiri di sisi timur & tenggara.
Pemandangan itu indah.
Lantaran bangunan pendapa tanpa sekat, membawa satu konsekuensi: angin bertiup tanpa halangan.
Hampir setiap hari angin datang. Kadang pelan seperti napas panjang, kadang melintas cepat seperti seseorang yang sedang terburu-buru. Pada hari-hari tertentu hembusannya cukup kuat untuk menggoyang tirai dan menggeser gelas di meja seduh.
Beberapa kali kertas catatan yang tidak ditindih beterbangan. Pernah juga gelas yang sudah terisi kopi jatuh dari meja karena tersenggol angin yang tiba-tiba datang.
Awalnya kami menganggap itu sekadar bagian dari cuaca.
Namun lama-lama muncul juga rasa penasaran: mengapa angin di Dalangan terasa lebih kencang dibanding tempat lain?
Di desa Jawa, pertanyaan seperti ini sering dijawab dengan cara yang khas. Bukan melalui buku meteorologi, melainkan melalui cerita.
Maka kami mulai bertanya kepada para simbah di kampung Dalangan, orang-orang tua yang masih menyimpan banyak kisah lama dalam ingatan mereka.
Dari mereka kami mendengar satu dongengan yang menarik.
Konon Dalangan adalah salah satu tempat berkumpulnya pusaran angin.
Dalam cerita tutur yang berkembang, tempat ini disebut sebagai arena latihan makhluk perkasa mitologis Garuda. “Garuda kecil” belajar mengepakkan sayap sebelum mampu terbang jauh. Sasana para pendekar yang datang untuk melatih ilmu meringankan tubuh, belajar berdamai dengan gerak angin sebelum benar-benar mampu menaklukkannya dan seolah olah seperti terbang di pandangan orang biasa.
Namun dongengan seperti ini selalu menarik dilihat dari sudut pandang budaya. Dalam banyak tradisi lisan, masyarakat sering menerjemahkan fenomena alam menjadi cerita simbolik. Angin yang kuat bisa menjadi metafora tentang kekuatan alam, tetapi juga tentang latihan dan ketahanan.
Jika dilihat dari sudut pandang geografi, fenomena ini sebenarnya tidak sepenuhnya misterius.

Wilayah Kalasan berada di dataran terbuka yang relatif dekat dengan lereng selatan Gunung Merapi. Perbedaan suhu antara dataran tinggi dan dataran rendah sering menciptakan sirkulasi udara yang cukup kuat, terutama pada sore hari. Hamparan sawah yang luas tanpa banyak penghalang juga membuat angin bergerak lebih bebas.
Apa pun penjelasannya, bagi kami yang bekerja setiap hari di lantai dua, angin itu akhirnya terasa seperti guru kecil.
Pada minggu-minggu pertama, hampir semua yang bekerja di sana mengalami hal yang sama: masuk angin.
Tubuh belum terbiasa. Kerokan menjadi pemandangan yang cukup rutin di belakang kedai.
Namun setelah beberapa pekan, keluhan itu perlahan berkurang. Tubuh seperti belajar menyesuaikan diri. Seolah-olah alam sedang memberi pelajaran sederhana: bahwa ketahanan tidak datang sekaligus, tetapi tumbuh perlahan.
Barangkali memang begitu cara manusia hidup di suatu tempat.
Kita tidak hanya membangun ruang untuk diri kita sendiri. Kita juga belajar mengikuti ritme yang sudah ada sebelumnya.
Meski begitu, manusia tetap manusia. Adaptasi ada batasnya. Karena itu, setelah hampir setahun berdamai dengan angin Dalangan, pekan ini kami akhirnya memutuskan memasang jendela-jendela penangkis angin di sekeliling pendapa lantai dua.
Keputusan itu bukan hanya karena angin, tetapi juga karena satu hal lain yang kami syukuri: dukungan orang-orang yang datang berulang warga kerepdolan (kerukunan pelanggan dongeng kopi lan kekancan). Para pelanggan yang datang jajan membawa teman, keluarga, bahkan rombongan yang kemudian dengan ringan hati merekomendasikan tempat ini kepada orang lain.
Dari sokongan merekalah perlahan kami bisa memperbaiki tempat ini sedikit demi sedikit.
Sebagaimana tajuk Dongeng Kopi di Dalangan sekarang; #DalanginDalangan: Ngaji Kopi, Silat, dan Filsafat, kami semula membayangkan tempat ini sebagai ruang latihan kecil: tempat belajar banyak hal, termasuk “jurus” menaklukkan angin.
Namun dengan terpasangnya jendela-jendela baru itu, barangkali sudah waktunya satu pelajaran ditutup.
Ilmu menaklukkan angin kami sudahi sampai di sini.
Mulai sekarang, latihan yang tersisa tinggal satu—jurus yang jauh lebih penting dalam dunia kedai kopi: silat lidah.
Seni bercakap-cakap. Bertukar pikiran, menyeruput kopi bersama.
Barangkali setelah ini di Dalangan, di tengah angin yang akan tetap berhembus itu, percakapan percakapan saja tampaknya akan terus tumbuh, perlahan, tetapi panjang umurnya.
teks: Renggo Darsono foto: Witz Studio