
Sudah lama sekali kami tak melihat anak SMA duduk tenang di depan meja seduh, menyeruput kopi sambil membaca buku. Pemandangan sederhana yang sudah jarang sekali kami temui. Kemarin sore, pemandangan itu datang lagi.
Seorang siswa masuk dengan langkah pelan. Seragam putih abu-abunya sedikit kusut, seperti baru melewati hari sekolah yang panjang. Di saku bajunya terjahit badge logodan terbaca: Kolese De Britto. Matahari masih menggantung di barat, dan cahaya yang menembus jendela membuat ruangan di Dalangan terasa hangat. Ada kegembiraan kecil yang sulit dijelaskan saat melihatnya, seperti bertemu seseorang yang terasa akrab, meski sebenarnya baru pertama kali berjumpa.
Sepuluh tahun lalu, pemandangan seperti ini justru terlalu biasa untuk diperhatikan.
Ketika Dongeng Kopi membuka kedai untuk gelanggang jam terbang magang di Demangan dengan nama SKJ (Sama Dengan Kopi Jogja) anak-anak SMA menjadi tamu yang paling rajin. Mereka datang hampir setiap hari, sering masih mengenakan seragam sekolah. Ada yang berdiri lama memperhatikan barista menakar bubuk kopi, seolah menyaksikan eksperimen kimia sederhana. Ada yang mencoba menggiling biji kopi, meski hasilnya sering terlalu kasar atau terlalu halus. Yang lain duduk berlama-lama membicarakan musik, buku, atau film yang baru mereka temukan dari internet, yang waktu itu masih terasa seperti perpustakaan rahasia.
Anak-anak SMA Tiga Maret, SMA Kolombo sering datang. Namun yang paling mudah dikenali biasanya anak-anak De Britto. Mereka datang berkelompok, membawa energi yang terlalu besar untuk ruangan kecil. Mereka tertawa tawa, berdebat tentang apa saja; tentang filsafat yang baru mereka dengar dari guru, tentang band yang katanya paling jujur di dunia, atau tentang novel yang mereka yakini mampu mengubah hidup seseorang.
Pendapat mereka sering terdengar terlalu yakin. Tetapi usia muda memang selalu penuh keyakinan.
Kemarin sore, salah satu siswa berseragam itu memperkenalkan diri. Namanya Siva. Ia berasal dari Sidoarjo dan datang bersama lima orang kawannya yang sedang janjian ngopi agak jauh dari tempat biasanya. Ke Jogja sisi timur, di Dusun Dalangan, Tirtomartani, Kalasan, Sleman. Teman-temannya memilih duduk di beranda lantai dua, tepat di atas dapur panggang Sasana Krida Dongeng Kopi Roastery. Dari sana Gunung Merapi tampak biru di kejauhan. Angin membawa aroma kopi yang baru dipanggang, sementara percakapan mereka naik turun seperti ombak kecil.
Siva memilih duduk di depan meja seduh.
Ia memesan kopi Timun Mas. Biji kopi itu diseduh perlahan; air panas turun seperti hujan kecil ke bubuk kopi yang mengembang. Aromanya naik pelan hangat dan manis.
Sambil menunggu, Siva berdiri di depan rak buku. Tangannya mengambil sebuah buku dari rak humaniora. Buku itu cukup tebal, dan judulnya tidak ringan untuk ukuran anak SMA: Pembangkangan Sipil.
Ia kembali duduk dan membuka halaman pertama.
Sesekali ia menyeruput kopi, lalu menunduk lagi pada buku di tangannya.
Melihat pemandangan itu, kami teringat sesuatu yang sering dilupakan orang dewasa: kedai kopi pada mulanya bukan sekadar tempat minum. Di banyak kota, kedai kopi pernah menjadi ruang pertemuan gagasan—tempat pikiran-pikiran muda bertemu dengan pertanyaan yang belum mereka kenal.
Di London pada abad ke-17, kedai kopi bahkan disebut penny university: universitas murah tempat orang bisa belajar hanya dengan harga secangkir kopi. Di sana orang membaca koran, mendengar cerita politik, dan memperdebatkan masa depan dunia.
Mungkin di Dalangan sore itu tidak ada yang sedang merancang revolusi.
Namun seorang siswa SMA duduk membaca buku tentang pembangkangan sipil sambil menyeruput kopi yang masih mengepul.
Dan sering kali, masa depan memang tidak dimulai dengan suara keras.
Ia dimulai dari meja kecil yang sunyi—dari halaman buku yang dibalik pelan, dari pikiran muda yang baru saja menemukan sebuah pertanyaan.
Di meja seduh itu, masa depan kembali ditulis.
Diam-diam.