Buldan Al Khuri, Menjaga Nyala Buku di Tengah Badai Digital

Di kawasan Shopping Center Yogyakarta—yang oleh banyak orang masih disebut “Shopping”—rak-rak buku berdiri seperti saksi waktu. Di antara lorong sempit yang menghubungkan satu toko ke toko lain, percakapan itu berlangsung tenang. Renggo Darsono berbincang dengan Buldan Al Khuri, sosok yang bagi dunia perbukuan Jogja identik dengan keberanian menerbitkan gagasan.

Jejak Buldan tidak lahir dari ruang rapat korporasi. Ia berawal dari Sanggar Sastra Kota Gede, ketika masih duduk di kelas tiga SMP. Di sana, ia menggandakan antologi puisi stensilan berjudul Di Bawah Lampu Merkuri. Dari kertas tipis dan tinta sederhana, ia belajar bahwa menerbitkan bukan sekadar soal teknik cetak, melainkan keberanian menyebarkan suara.

Ia kemudian menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, jurusan Desain Komunikasi Visual. Pilihan itu tampak visual, tetapi teks selalu memanggilnya kembali. Bagi Buldan, visual dan kata bukan dua dunia terpisah. Keduanya adalah perangkat membaca zaman—yang satu berbicara lewat rupa, yang lain lewat makna.

Pada 1992, ia mendirikan PT Bentang Interview Utama. Namun perjalanan itu tidak sepenuhnya mulus. Ia memilih keluar dan membangun Yayasan Bentang Budaya. Bentuk yayasan ia pilih dengan sadar: buku, baginya, bukan sekadar komoditas, melainkan kerja naluri dan tanggung jawab kebudayaan. “Buku yang saya suka semoga disukai pasar. Kalau tidak, ya tidak apa-apa.” Sikap ini bukan anti-pasar, melainkan cara menjaga otonomi pilihan.

Pasca-Reformasi, keberanian itu menemukan momentumnya. Bentang Budaya menerbitkan karya-karya yang sebelumnya dibatasi: tulisan Pramoedya Ananta Toer, Tan Malaka, Che Guevara, hingga Karl Marx. Bahkan penerbitan buku tentang Soe Hok Gie pernah menimbulkan tekanan di masa Orde Baru. Risiko, bagi Buldan, bukan penyimpangan dari pekerjaan—melainkan bagian inheren dari pilihan intelektual.

Pada tahun 2000, di tengah krisis kertas dan ekonomi, ia mendirikan Mata Bangsa dengan dukungan Ford Foundation. Melalui delapan imprint—dari Teplok Press hingga Pohon Sukma—ratusan judul bertema kebangsaan, filsafat, dan sejarah terbit. Dalam beberapa tahun terakhir, fokusnya condong pada buku-buku “berat”: cetak ulang Dari Penjara ke Penjara, ensiklopedia daerah, serta edisi eksklusif tentang batik, keris, dan kopi. Ia tidak mengejar sensasi; ia membangun arsip.

Lalu datanglah badai digital. Toko buku tutup satu per satu. Distribusi berubah. Pembaca beralih layar. Namun Buldan tidak tergesa menyimpulkan kiamat buku fisik. Menurutnya, penurunan minat tak sedramatis narasi yang sering digaungkan. Ia justru melihat anak muda membawa buku filsafat ke kafe—bukan sekadar simbol, tetapi tanda bahwa buku masih menyimpan aura: tekstur kertas, bau tinta, jeda hening saat halaman dibalik.

Setelah lebih dari tiga dekade, ia tetap mengurasi naskah sendiri, tanpa karyawan tetap. Keputusan itu bukan romantisme, melainkan cara menjaga mutu dan kebebasan memilih. Ia ingin setiap buku lahir dari pertimbangan yang matang, bukan semata kalkulasi.

Di tengah perdebatan fisik versus digital, Buldan berdiri tenang. Medium boleh berubah, tetapi gagasan selalu mencari rumahnya sendiri. Dan selama masih ada yang membaca dengan sungguh-sungguh, api buku itu—sekecil apa pun nyalanya—akan tetap menyala.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.