Ada banyak cara masuk ke dunia kopi. Aryunanta—yang akrab dipanggil Igel atau Black Eagle—memulainya dengan cara yang nyaris jenaka: ingin nongkrong tanpa harus keluar uang. Ia datang sebagai pelanggan di Dongeng Kopi. Lalu, alih-alih sekadar menjadi penikmat, ia memilih melamar kerja.
Di bawah arahan Renggo Darsono, ia tidak langsung berdiri gagah di balik mesin espresso. Ia mencuci gelas. Menjadi pelayan. Mengantar pesanan. Mengamati ritme kerja dari jarak dekat. Dari pekerjaan yang tampak sederhana itu, ia belajar fondasi paling penting: kopi adalah disiplin, bukan sekadar gaya hidup atau simbol keren anak muda.
Percakapan sepanjang satu jam lebih memperlihatkan jalan panjang yang tak selalu glamor. Setelah merasa cukup ditempa di Jogja, Igel merantau ke Jakarta. Ijazah D3 Akuntansi dari Universitas Gadjah Mada sempat membawanya membayangkan hidup di balik meja kantor. Namun aroma kopi lebih memanggil daripada laporan keuangan.
Di ibu kota, ia memilih menjadi barista penuh waktu. Ia berpindah dari satu kedai ternama ke kedai lain—bukan demi gengsi, melainkan demi belajar. Ia mencoba mesin-mesin canggih, memahami standar operasional yang lebih ketat, dan menyerap kultur kerja yang berbeda. Jakarta bergerak cepat. Pelanggan datang dengan orientasi efisiensi dan citra sosial. Waktu adalah komoditas. Kopi sering kali menjadi bagian dari identitas.
Jogja berbeda. Di sana mahasiswa duduk lama, harga lebih ramah, percakapan lebih lentur. Bagi Igel, memahami demografi bukan sekadar strategi bisnis, melainkan etika kerja. Barista bukan hanya peracik minuman; ia adalah pembaca situasi sosial.
Menariknya, latar belakang akuntansi justru menjadi senjata sunyi. Ia menghitung biaya bahan baku, memetakan arus kas, mengukur efisiensi tenaga kerja. Di pasar kerja Jakarta yang kompetitif, keterampilan tambahan bukan pilihan—ia adalah kebutuhan. Kopi bertemu logika angka; kreativitas berdampingan dengan neraca.
Namun keterampilan teknis dan manajerial saja tidak cukup. Igel dikenal karena kemampuannya berkomunikasi. Ia percaya barista hari ini harus menjadi jembatan—menerjemahkan proses, origin, dan karakter rasa kepada pelanggan tanpa terdengar menggurui. Ia menyebutnya kerja relasi: mendengar 80 persen, berbicara 20 persen. Dari situ loyalitas tumbuh.
Ada dimensi lain yang jarang dibahas: musik. Bagi Igel, playlist adalah arsitektur tak kasatmata sebuah kedai. Ia membayangkan kopi Panama yang floral seperti lantunan jazz lembut ala Norah Jones—ringan, intim, sedikit melankolis. Musik membentuk atmosfer; atmosfer memengaruhi cara orang mengecap dan mengingat pengalaman.
Di ranah komunitas, ia melihat pertukaran informasi sebagai energi utama. Prestasi barista Indonesia di panggung internasional seperti World of Coffee memberinya optimisme bahwa standar kita tak lagi pinggiran. Namun ia tetap merawat rasa penasaran. Baginya, setiap orang menyimpan pelajaran, setiap kedai menawarkan sudut pandang baru.
Perjalanan Igel—dari mencuci gelas hingga berdiri di panggung kopi ibu kota—adalah kisah tentang ketekunan dan rasa ingin tahu. Ia tidak melompat; ia menapak. Seduhan boleh pahit, tetapi justru di sanalah karakter dibentuk.
Dalam dunia kopi yang terus berubah, ia memilih satu sikap yang tampak sederhana namun sulit dijaga: terus belajar, tetap rendah hati, dan menganggap diri belum selesai.