Di sebuah siang yang tenang, percakapan itu mengalir tanpa nada menggurui. Renggo Darsono dari Dongeng Kopi duduk berhadapan dengan Agus Prasetyo, Kepala Sekolah Talabumi Academy. Topiknya terdengar teknis: Coffee Value Assessment (CVA), sistem penilaian kopi terbaru dari Specialty Coffee Association. Namun yang mereka bicarakan sesungguhnya bukan sekadar instrumen evaluasi. Mereka membicarakan soal nilai—dan siapa yang berhak menentukannya.
Selama hampir dua dekade, industri kopi akrab dengan formulir cupping 2004. Angka 80 ke atas menjadi mantra; garis batas antara kopi biasa dan specialty. Skor menjadi bahasa tunggal. Ia ringkas, mudah dipahami, sekaligus menyederhanakan. Akan tetapi waktu bergerak. Pasar berubah, preferensi konsumen berkembang, dan rantai pasok semakin kompleks. Pertanyaan lama pun muncul kembali: apakah satu angka cukup mewakili kerja panjang dari kebun hingga cangkir?
CVA lahir dari kegelisahan itu. Dikembangkan melalui riset bertahun-tahun, sistem ini mencoba menjawab kebutuhan akan penilaian yang lebih jernih dan terpisah antara fakta serta preferensi. Di dalam CVA, deskripsi sensori ditempatkan sebagai temuan objektif—apa yang benar-benar teridentifikasi pada aroma, rasa, dan karakter kopi. Untuk membantu konsistensi, tersedia daftar katalis deskriptor agar penilai tidak terjebak pada kosakata yang liar atau terlalu personal.
Sementara itu, kesukaan pribadi berdiri di ruang berbeda, pada skala afektif. Dengan pemisahan ini, CVA berupaya mengurangi bias: kopi bisa saja dideskripsikan dengan presisi tanpa harus langsung dihakimi sebagai “baik” atau “kurang baik”. Tambahan lain yang signifikan ialah penilaian fisik biji (green grading) dan aspek ekstrinsik—asal kebun, nama petani, praktik budidaya, hingga rekam jejak kompetisi. Kopi tidak lagi berhenti pada sensasi di lidah; ia membawa konteks, jejak, dan cerita produksi.
Bagi roaster dan quality control, pendekatan ini memberi peta yang lebih terang. Masalah dapat dilacak pada titik yang spesifik: pascapanen, sortasi, atau profil sangrai. Bagi petani, sistem ini menjanjikan umpan balik yang lebih aplikatif. Nilai kopi tidak lagi semata skor yang menggantung, melainkan rangkaian informasi yang bisa ditindaklanjuti. Bahkan kini tersedia kalkulator CVA daring untuk merangkum seluruh input menjadi skor akhir yang transparan dan dapat ditelusuri kembali.
Tentu, setiap perubahan menuntut adaptasi. Para Q-Grader tidak cukup mengandalkan kebiasaan lama. Talabumi Academy membuka kelas intensif untuk membaca ulang logika penilaian, melatih memori sensori, dan memahami struktur formulir baru. Ini bukan sekadar pelatihan teknis, melainkan pembaruan cara pandang: dari sekadar memberi angka menjadi mengurai nilai.
Indonesia, sebagai salah satu produsen kopi terbesar dunia, berada pada persimpangan penting. Pertanyaannya bukan apakah kita mampu mengikuti perubahan, melainkan apakah kita bersedia belajar ulang. CVA mungkin terdengar rumit pada awalnya. Namun di balik kerumitannya tersimpan peluang: agar kopi—dari kebun hingga cangkir—dihargai secara lebih utuh, bukan hanya karena angka, melainkan karena nilai yang dapat dijelaskan, dipertanggungjawabkan, dan dibagikan secara adil.