Dalam banyak buku agronomi, arabika kerap disebut sebagai “anak gunung”. Ia tumbuh ideal di atas 1.000 meter di atas permukaan laut, memeluk kabut, dan berkembang dalam suhu sejuk yang stabil. Karena itu, ketika Muchson “Vergas” memilih menanam arabika di Jatinom, Klaten—pada ketinggian 300–400 mdpl—keputusannya terdengar seperti penentangan terhadap pakem.
Namun Vergas memang terbiasa berjalan di jalur yang tidak sepenuhnya lurus.
Ia datang dari dunia yang berbeda: bar, botol, dan teknik racik. Kariernya bermula sebagai bartender. Ambisinya waktu itu terdengar unik—menjadi “Miksologis Indonesia”, sebuah capaian yang, menurutnya, menuntut penguasaan lima elemen rasa: alkohol, kopi, teh, rempah, dan cokelat. Dari kelima unsur itu, kopi justru menariknya paling dalam.
Sekitar 2009–2010, ia mulai serius mendalami kopi. Bukan sebagai pemilik kebun, melainkan sebagai penikmat yang ingin memahami asal-usul rasa. Ia menjadi supplier, menjajakan kopi dari pintu ke pintu. Fase ini penting: ia belajar bukan hanya tentang kualitas, tetapi juga tentang daya tahan dan jejaring.
Perjalanannya membawanya ke Bandung untuk memperdalam disiplin sensori. Di sana, ia berlatih mencicipi dengan mata tertutup, mengurai tingkat keasaman, membaca body, hingga menebak daerah asal dari jejak rasa. Kopi baginya bukan sekadar komoditas dagang; ia adalah latihan ketelitian indera. Ada metode, ada kesabaran, ada standar.
Pengalaman ekspor ke Belanda dan Jerman memperluas cakrawalanya. Ia melihat preferensi yang berbeda: pasar Eropa relatif akrab dengan dark roast yang pekat dan berminyak, sementara di Indonesia tren manual brew dengan profil lebih terang justru berkembang pesat. Dari perjumpaan lintas selera itu, ia mendirikan CV Mustajab pada 2010, lalu meningkatkan statusnya menjadi PT Premium Bean pada 2017 demi penguatan legalitas ekspor dan ekspansi skala usaha. Unit bisnisnya kini tersebar di Yogyakarta, Bandung, Bali, hingga Malang.
Namun eksperimen terbesarnya tidak terjadi di kota-kota itu. Ia memilih kembali ke tanah yang lebih sunyi: Jatinom, Klaten.
Secara teori, suhu dataran rendah kurang ideal bagi arabika. Tetapi Vergas tidak hanya menanam; ia merancang ekosistem. Ia menjaga kelembapan tanah, mengatur pola tanam, serta menanam pohon naungan seperti pisang dan lamtoro untuk menstabilkan mikroklimat. Pendekatannya bukan sekadar bertaruh, melainkan membaca ulang kondisi lahan.
Ia bahkan bereksperimen dengan varietas variegata yang menghadirkan sensasi sparkling—karakter rasa yang jarang diasosiasikan dengan dataran rendah. Upaya ini bukan semata demi diferensiasi pasar, melainkan pembuktian bahwa terroir dapat dikelola, bukan hanya diterima sebagai takdir geografis.
Dalam urusan bisnis, ia dikenal tegas pada efisiensi. Mulailah dengan alat yang fungsional, bukan mesin mahal demi gengsi. Hitung modal secara realistis, pahami ukuran pasar, dan bangun relasi jangka panjang. Baginya, komunitas lebih menentukan keberlanjutan dibanding etalase mewah.
Di akhir percakapan, ia merumuskan prinsipnya dengan sederhana: kopi yang baik adalah kopi yang dipetik merah, diproses dengan benar, dan tetap terjangkau.
Di tangan Vergas, obsesi bukanlah ambisi kosong. Ia adalah kesediaan untuk menguji batas kemungkinan—bahwa tanah rendah pun, jika dipahami dengan tekun, mampu melahirkan cita rasa yang tinggi.