Di Jogoyudan, di tepi Kali Code yang akrab dengan riwayat banjir dan kisah tentang bertahan hidup, ada satu gang sempit yang kerap membuat penunjuk arah digital kebingungan. Di ujung lorong itu berdiri CoFams. Kedainya kecil, tenang, nyaris tersembunyi. Namun justru dari ruang yang tak mencolok itu, aroma kopi dan desir pita kaset memanggil orang-orang datang, kadang dari tempat yang tak terduga.
Fahmi, pendirinya, tidak tumbuh dari sekolah kopi ternama. Ia belajar sejak 2014 dengan cara yang lebih sunyi. Ia berpindah dari satu kedai ke kedai lain di Yogyakarta: dari Omah Kopi ke Marry Anne’s, lalu ke Palsope dan Sevenstone. Ia menghafal bunyi mesin, memahami tekstur susu, meraba ritme latte art. Semua ia pelajari perlahan. Tidak ada jalan pintas—hanya pengulangan dan ketekunan.
Nama CoFams lahir dari gagasan awal yang sederhana: Coffee Farm. Ide itu ia bangun bersama adiknya ketika mereka berjualan di Sunmor UGM pada 2015. Dari lapak pagi yang sementara itu, ia belajar tentang daya tahan. Tentang berdiri sejak matahari belum tinggi dan tetap melayani dengan ramah meski tubuh letih. Dari sana ia memahami bahwa kedai bukan hanya soal rasa, melainkan tentang konsistensi untuk hadir.
Pada 14 Desember 2020, di tengah pandemi yang membuat banyak orang menahan langkah, Fahmi justru membuka kedai di Jogoyudan. Keputusan itu terdengar nekat bagi sebagian orang. Baginya, itu soal kesiapan batin. Ia ingin membangun ruang yang terasa seperti rumah: tidak bising, tidak tergesa. Wi-Fi sengaja tidak disediakan. Ia ingin orang datang untuk berbincang, bukan sekadar menunduk pada layar.
Tantangan terbesar bukan pada racikan kopi, melainkan akses menuju lokasi. Banyak pelanggan tersesat di gang-gang kecil. Hingga suatu hari, seorang turis Australia mengunggah video TikTok tentang “tangga Korea” yang mengarah ke kedai itu. Tangga kampung yang sebelumnya biasa saja mendadak menjadi penanda. Video itu viral. CoFams ramai. Turis Asia berdatangan—dari Hong Kong, Taiwan, hingga Tiongkok. Sebagian dari mereka bukan hanya mencari kopi, melainkan kaset pita.
Sejak 2022, Fahmi serius mengkurasi rilisan fisik. Album dari Sheila On 7, Dewa 19, Oasis, hingga Radiohead tersusun rapi di rak. Di tengah dominasi layanan streaming, kaset menjadi benda yang memiliki bobot kenangan. Ia bisa disentuh, dibalik, disimpan. Ada rasa memiliki yang tak tergantikan oleh daftar putar digital.
Perjalanan CoFams juga dibangun dari kesabaran pada alat yang tersedia. Selama empat tahun Fahmi menggunakan perangkat manual seperti Staresso sebelum akhirnya mampu membeli mesin yang lebih mapan. Ia tidak menunggu segala sesuatu sempurna. Ia memilih melangkah dengan apa yang ada. “Maju dulu,” begitu prinsip yang ia pegang.
Di Jogoyudan, CoFams berdiri bukan sebagai kedai yang mengejar gemerlap. Ia tumbuh dari kampung, dari gang sempit yang sering terlewatkan. Di sana kopi menjadi cara bertahan. Ia juga menjadi cara mengingat, lewat pita kaset yang terus berputar pelan. Dari ruang kecil itu, dunia terasa dekat. Kadang, untuk menemukan sesuatu yang berarti, orang memang harus bersedia masuk lebih dalam ke lorong yang tak terlalu lebar.