12 Oktober 2025, TANDANG singgah ke Prada Espresso. Siang itu kami duduk berhadapan dengan Om Koko—nama yang bagi banyak pegiat kopi Jogja sudah menjadi bagian dari sejarahnya. Lebih dari dua dekade ia menjaga api espresso tetap menyala, setia pada ritme yang tidak terburu buru.
Perjalanannya dimulai pada 2003, ketika ia membantu sang kakak membuka “Rumah Kopi”. Pada masa itu, espresso dan cappuccino masih terdengar asing di Yogyakarta. Banyak pengunjung datang karena penasaran. Barista bukan hanya meracik, tetapi juga menjelaskan: apa itu crema, mengapa cappuccino berbusa, dan mengapa rasanya berbeda dari tubruk atau kopi saset yang lebih akrab di lidah.
Dua tahun berselang, ia berjualan street coffee menggunakan VW Kombi di Jalan Solo. Menjual espresso dari mobil bukan pemandangan lazim saat itu. Justru dari keberanian itulah karakter Prada mulai terbentuk. Ada keyakinan yang tak banyak bicara, tetapi konsisten berjalan.
Nama “Prada” diambil dari falsafah Jawa—goresan emas. Harapannya sederhana: meninggalkan jejak yang bermakna. Hingga hari ini, Prada tetap bertahan di jalur klasik Italia, berfokus pada minuman berbasis espresso. Tren datang silih berganti, menu berubah mengikuti musim, tetapi fondasi itu tak goyah. Bagi Om Koko, selera penikmat kopi kini sulit ditebak; spektrumnya luas. Satu yang ia yakini, kopi tak akan kehilangan tempatnya karena telah menjadi bagian dari gaya hidup.
Ketahanan Prada tak hanya bertumpu pada rasa. Relasi menjadi kunci. Pelanggan diperlakukan sebagai kawan. Percakapan terjalin tanpa jarak. Dari kedekatan itulah kepercayaan tumbuh, dan kedai bertahan hingga 22 tahun.
Dalam mengelola barista, Om Koko justru mencari mereka yang ia sebut “gelas kosong”—orang-orang tanpa latar kopi yang kuat. Ia ingin membentuk dari awal. Mereka belajar menyeduh, tetapi juga belajar membaca stok, menghitung arus kas, dan memahami dapur bisnis. Barista, menurutnya, harus siap berdiri sendiri suatu hari nanti.
Prinsipnya jelas: pahami bisnis, jangan hanya bijinya. Kedai kecil perlu memiliki konsep yang kuat, entah lewat cerita, suasana, atau nilai yang dipegang. Tanpa itu, mereka mudah tenggelam di antara pemain besar. Ia juga menerapkan pola hidup harian dalam operasional: belanja secukupnya, perputaran uang dijaga tetap sehat. Di Prada tak ada absensi formal. Integritas dibangun lewat kepercayaan dan pembukuan yang terbuka.
Atmosfer kedai terasa hangat. Musik jazz mengalun pelan. Rak buku tersusun di sudut ruangan. Di antara bacaan yang ia gemari ada Bhagavad Gita. Dari sana, barangkali, ia menyerap keteguhan tentang laku dan kesadaran. Bekerja bukan sekadar rutinitas, melainkan jalan yang dijalani dengan utuh.
Menjelang akhir perbincangan, satu hal terasa jelas: Prada bukan sekadar tempat minum kopi. Prada adalah ruang belajar tentang konsistensi. Goresan emas itu tidak dibuat dengan sorotan besar atau langkah tergesa. Ia hadir pelan, melalui disiplin, relasi yang dirawat, dan kesetiaan pada rasa yang dijaga hari demi hari.