Mari Ngopi: Kedai Kopi Jogja yang Lahir dari Keberanian dan Cincin Kawin

Mari Ngopi lahir dari kegigihan, keberanian, dan sedikit pertaruhan. Dalam episode TANDANG bersama Daratama, Akrom, pendirinya, membocorkan kisah di balik kedai yang kini menjadi salah satu referensi kopi di Jogja.

Segalanya cikal bakal Mari Ngopi dimulai pada 2010. Kedai fisiknya baru lahir pada 2014. Sebelumnya, mereka berjualan melalui stan di kampus, festival, hingga FKY. Modal untuk menyewa stan tidak kecil. Laptop sempat hendak digadaikan, tetapi ditolak. Akhirnya, yang menjadi taruhan adalah cincin kawin—keputusan berani yang menjadi simbol komitmen mereka terhadap kopi dan mimpi yang dijalani.

Tagline “Bayar Seikhlasnya” lahir dari filosofi sederhana. Kopi berkualitas harus bisa dinikmati siapa saja, terutama mahasiswa, tanpa terbebani harga. Ide ini awalnya diterapkan pada kopi single origin sekaligus sebagai sarana edukasi rasa—agar penikmat belajar menghargai setiap aroma, keasaman, dan kekayaan citarasa kopi Nusantara.

Akrom sudah berkutat di dunia kopi sejak 2008, bekerja sebagai barista di kedai legendaris Keiko Coffee. Seleksi ketat menanti: tes psikologi, magang tiga bulan, hingga akhirnya memegang mesin espresso. Dari pengalaman itu, ia belajar bahwa kopi bukan sekadar minuman. Kopi adalah budaya, disiplin, dan ruang belajar—tempat di mana kesabaran dan ketelitian menjadi bagian dari setiap cangkir.

Menurut Akrom, pasar kopi mengikuti siklus. Robusta, misalnya, diprediksi akan kembali populer karena sesuai dengan lidah masyarakat, terutama untuk kopi susu. Kompetisi ke depan tidak lagi hanya antar kedai kopi, melainkan juga dengan minuman beralkohol, seiring Jogja berkembang sebagai kota hiburan. Untuk bertahan, ia menyarankan kedai memiliki hubungan langsung dengan petani, atau bahkan kebun sendiri, agar stok terjaga dan harga stabil.

Dalam manajemen, Akrom memilih gaya sejajar dengan barista. Otoritarianisme ditinggalkan; komunikasi terbuka dan kesejahteraan mental staf menjadi prioritas. Filosofi “No Wi-Fi” sengaja diterapkan untuk mendorong interaksi sosial. Alih-alih menunduk pada layar, pengunjung berbicara, berbagi cerita, dan membangun komunitas yang loyal lingkar sosial yang menjadi bagian dari pengalaman kopi itu sendiri.

Pesan untuk barista muda pun jelas: nikmati proses, pahami setiap langkah dari biji hingga cangkir, jangan tergesa, dan pilih kawan berbisnis dengan hati-hati. Lingkungan yang tepat bisa menopang kesuksesan; sebaliknya, salah pergaulan dapat menjadi hambatan.

Mari Ngopi lebih dari sekadar kedai. Ia adalah laboratorium rasa, sekolah mini bagi barista, dan ruang komunitas. Di sini, kopi menjadi medium belajar, bertukar pengalaman, dan membangun ikatan. Semua itu lahir dari keberanian, disiplin, dan secuil cincin kawin yang dipertaruhkan demi mimpi.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.