
Pada malam ketika angin turun dari lereng Merapi dan kampung lekas sunyi, langit terasa lebih dekat dari biasanya. Orang-orang tua duduk di bangku kayu, menunjuk satu cahaya kecil di selatan. Mereka menyebutnya Tara. Bukan bintang paling terang, kata mereka, tetapi cukup setia untuk diikuti.
Nama itu datang dari jauh. Dalam tradisi Buddhisme Vajrayana dikenal sosok Tara sebagai penuntun dan penyelamat. Ketika ajaran itu singgah di Jawa berabad silam, Tara tidak tinggal sebagai cerita asing. Ia diserap pelan-pelan ke dalam bahasa dan imajinasi setempat.
Di tanah ini, langit tak pernah sepenuhnya terpisah dari kehidupan sehari-hari. Apa yang tampak di atas dipercaya memiliki gema di bumi. Karena itu Tara tidak dibayangkan sebagai dewi yang jauh dan tak terjangkau. Ia hadir sebagai penunjuk arah, cahaya kecil yang membantu orang menemukan jalan pulang.
Ada kisah yang masih beredar dari mulut ke mulut tentang seorang perempuan yang memilih tinggal di puncak bukit. Setiap malam ia menyalakan api bagi pengelana yang tersesat di hutan dan lereng. Api itu sederhana, tetapi terlihat dari kejauhan. Setelah ia wafat, orang percaya cahayanya berpindah ke langit. Sejak itu bintang kecil di selatan disebut Tara, penjaga yang tak lagi berjalan di tanah namun tetap berjaga.
Petani yang bangun sebelum fajar menoleh ke arahnya. Jika sinarnya tampak bening, mereka merasa musim akan bersahabat. Nelayan yang melaut malam memandangnya sebelum mendayung lebih jauh. Bintang itu tidak menjanjikan apa-apa. Ia hanya menenangkan langkah.
Dalam ajaran welas asih yang dikenal lewat Lokeswara, kasih bukan sekadar rasa iba, melainkan tindakan. Tara dipahami dalam semangat itu. Menuntun berarti hadir. Bukan banyak bicara, melainkan ada ketika dibutuhkan. Laku seperti ini mudah dikenali dalam keseharian Jawa—pada sosok ibu yang bangun lebih dulu dan tidur paling akhir. Ia jarang menonjolkan diri, tetapi rumah berdiri karena kesetiaannya.
Dalam cerita lisan, Tara kerap disebut Lintang Ibu. Bintang yang sabar, menyala sepanjang malam tanpa meminta dilihat.
Ada pula tafsir yang lebih hening. Tara dianggap sebagai cahaya kecil dalam diri. Setiap orang menyimpan penuntunnya sendiri. Saat hidup terasa gelap, yang dicari bukan gemerlap, melainkan ketenangan untuk membaca arah dari dalam.
Kisah tentang Tara mungkin tak pernah dipahat di batu. Ia bertahan dalam ingatan dan dalam cara orang menengadah. Di kota yang lampunya menyala tanpa jeda, bintang sering kalah terang. Namun ketika listrik padam dan malam kembali pekat, orang kembali mencari satu titik cahaya yang terasa akrab.
Di situlah Tara bersentuhan dengan laku yang sederhana: menyeduh kopi.
Secangkir kopi lahir dari proses panjang. Biji ditanam, dipetik, dijemur, disangrai, digiling, lalu diseduh. Tak ada tahap yang dapat diloncati. Semua menuntut perhatian. Menyeduhnya pun memerlukan kesadaran. Air yang terlalu panas mengubah rasa. Terlalu dingin membuatnya datar.
Di beranda rumah yang menghadap malam, kopi sering menjadi teman diam. Uapnya naik pelan. Kita menunggu sejenak sebelum menyeruput. Dalam jeda itu ada ruang untuk bernapas dan merapikan pikiran. Pahitnya jernih. Asamnya segar. Manisnya tertinggal lebih lama dari dugaan.
Tara mengajarkan arah. Kopi mengajarkan kesadaran.
Bintang tidak memaksa orang untuk percaya. Ia hanya menyala di tempatnya. Kopi pun tidak menawarkan jawaban siap pakai. Ia menyediakan waktu agar jawaban tumbuh perlahan.
Barangkali di situlah keduanya bertemu: pada kesetiaan terhadap proses dan keheningan yang menuntun tanpa banyak suara. Satu cahaya kecil cukup untuk berjalan. Satu cangkir hangat cukup untuk menyeberangkan hati dari gelisah menuju tenang.