Di Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, ada sebuah toko buku dengan jargon yang membuat orang tersenyum namun realistis: “Kadang jual buku bermutu, kadang tidak.” Gurau itu terasa ringan. Namun siapa pun yang masuk ke dalamnya akan segera paham, ada kesungguhan yang sedang dirawat di sana. Rak-rak kayu, tumpukan buku, dan percakapan yang mengalir pelan menjadi saksi kerja sunyi bernama literasi.
Ruang itu menjadi latar episode kelima siniar Daratama berjudul TANDANG – Menjaga Buku, Merawat Cerita di Akal Buku. Format TANDANG (Tanya Jawab Tentang) sederhana: menyambangi. Tim datang ke tempatnya, duduk bersama narasumber, lalu membiarkan suasana ikut berbicara. Pendekatan ini membuat obrolan terasa hangat dan tidak dibuat-buat.
Yang disambangi adalah Akal Buku, toko yang dirintis Agus Mulyadi bersama Kalis Mardiasih sejak 2018. Nama “Akal” diambil dari gabungan nama keduanya. Sederhana, akrab, dan terasa intim. Dari toko kecil itu kini tersusun sekitar 700 sampai 800 judul buku hasil kurasi.
Kurasi menjadi kunci. Tidak semua buku bisa masuk. Ada sikap yang dijaga. Buku-buku yang dipilih berpijak pada gagasan Islam moderat, menghargai kesetaraan, dan menghindari nalar yang memecah belah. Di tengah banjir informasi dan polarisasi wacana, pilihan ini terasa penting. Akal Buku tidak sekadar menjual barang cetak. Ia menawarkan pandangan.
Dalam obrolan siniar tersebut, Agus bercerita tentang strategi bertahan di era digital. Ia aktif di Facebook Pro sejak awal program itu dibuka di Indonesia. Penghasilannya dari adsense tidak besar, sekitar puluhan dolar per bulan. Namun Facebook memberinya akses pada pembaca yang jarang disentuh kampanye literasi formal. Pedagang kecil, pengemudi ojek daring, ibu rumah tangga, pembaca yang tumbuh dari pengalaman sehari-hari. Dua tahun terakhir ia juga hadir di TikTok. Platform ini memberinya pembaca baru yang lebih muda. Ada pula penghasilan dari afiliasi dan penjualan buku digital. Semua itu dilakukan untuk satu tujuan: menjaga agar buku tetap menemukan pembacanya.
Pembicaraan lalu melebar ke ekosistem toko buku di Yogyakarta dan Sleman. Di kota ini, toko buku kerap menjadi ruang temu gagasan. Saat peristiwa Gejayan Memanggil mengemuka, buku-buku kritis ikut beredar dan dibicarakan. Toko buku menjadi bagian dari denyut sosial. Hubungan antar toko pun cair. Jika satu tempat kehabisan stok, pembeli diarahkan ke tempat lain. Semangat saling menopang terasa nyata.
Bagian yang paling menyentuh datang dari kenangan masa kecil Agus. Ia mengenal dunia baca lewat komik seperti Dragon Ball dan Kungfu Boy. Uang sisa ongkos bus yang dihemat membantunya menyewa komik. Ada kondektur yang membiarkan ia membayar kurang dari tarif seharusnya. Dari situ ia belajar bahwa pendidikan sering lahir dari kemurahan hati sederhana.
Kini, melalui Akal Buku, ia ingin memberi ruang bagi penulis baru. Ia percaya membaca tidak perlu dipaksakan. Seseorang hanya perlu menemukan satu buku yang membuatnya jatuh cinta. Dari sana, kebiasaan akan tumbuh sendiri.
Episode TANDANG ini penting bagi siapa pun yang mencari toko buku di Sleman, ingin memahami ekosistem literasi Yogyakarta, atau sekadar mencari inspirasi membaca. Akal Buku hadir sebagai ruang rawat. Tempat buku dijaga, gagasan dirawat, dan komunitas dipelihara pelan-pelan.
Di tengah arus cepat media sosial dan distraksi digital, toko kecil itu mengingatkan kita pada hal mendasar. Literasi bukan soal angka penjualan. Ia tentang hubungan. Tentang akal yang terus diasah agar tetap jernih.