Berdikari, Membaca sebagai Sikap

Pada 3 Agustus 2025, siniar TANDANG kembali berkunjung ke sebuah ruang yang lahir dari keterbatasan, lalu tumbuh menjadi tempat orang-orang saling menemukan. Episode keempat bertajuk “TANDANG – Berdikari: Yang Penting Baca Aja Dulu” mempertemukan kita dengan Dana Gumilar, pendiri Berdikari Book, yang kini menetap dan mengelola tokonya di kawasan Maguwoharjo, tak jauh dari Stadion Maguwoharjo.

Percakapan berlangsung di antara rak buku dan cangkir kopi. Nadanya tenang, sesekali diselingi tawa. Namun dari obrolan yang mengalir itu tersusun cerita tentang bagaimana sebuah toko buku bisa menjadi bentuk sikap.

Nama “Berdikari” mengingatkan kita pada gagasan Soekarno tentang berdiri di atas kaki sendiri. Di tangan Dana, istilah itu mendapat tafsir yang lebih personal dan jenaka. Ia pernah menyebutnya sebagai “berdiri di atas kasur sendiri”. Awalnya memang demikian. Ia memulai dari kamar kos yang sempit. Buku-buku ditumpuk di atas kasur. Ruang gerak terbatas. Tidak ada etalase, tidak ada meja pajang. Yang ada hanya kemauan untuk memulai.

Dana tidak tumbuh dari dunia literasi secara formal. Ia belajar pertanian. Hidup sebagai mahasiswa di Yogyakarta membuatnya akrab dengan kebutuhan tambahan biaya. Ia gemar menulis ulasan buku di Facebook. Ia aktif di lingkar diskusi mahasiswa. Dari sana, teman-teman di luar kota mulai menitip pembelian buku. Pesanan kecil itu datang satu per satu. Kepercayaan terbangun pelan. Dari situlah Berdikari lahir.

Kini Berdikari telah menempati lokasi ketiganya. Fungsinya meluas. Ia menjadi toko, gudang, perpustakaan kecil, sekaligus kedai kopi. Orang datang untuk membeli buku, berbincang, atau sekadar duduk membaca. Namun Dana sadar, napas utama usahanya tetap berada di ranah digital. Sebagian besar penjualan terjadi lewat website, aplikasi, dan media sosial. Toko fisik menjadi tempat berjumpa. Layar gawai menjadi jalur distribusi.

Ada satu prinsip yang menarik dari Dana. Ia menyebutnya sebagai menolak matang. Dalam pikirannya, sesuatu yang terlalu cepat mapan justru berhenti bergerak. Berdikari harus terus berubah. Ia tidak ingin menjadi simbol nostalgia toko buku alternatif. Ia ingin tetap lentur, mengikuti gerak pembacanya.

Sejak awal, Berdikari dikenal karena kurasi buku-buku sosial, politik, filsafat, dan sejarah. Pernah ada masa ketika raknya identik dengan teori sosial yang berat. Seiring waktu, pilihan itu berkembang. Kini tersedia pula buku parenting dan bacaan anak. Bukan karena mengendurkan sikap, melainkan karena pembacanya bertumbuh. Mereka yang dulu berdiskusi tentang teori kini mengasuh keluarga. Berdikari memilih menemani fase itu.

Perubahan juga tampak pada tagarnya. Dari #MembacaAdalahMelawan menjadi #BacaAjaDulu. Ajakan ini sederhana. Bacalah sebelum berbicara. Pahami sebelum bereaksi. Di tengah kebiasaan berkomentar cepat di media sosial, kalimat itu terasa jernih. Tidak menggurui. Hanya mengingatkan.

Eksperimen seperti “Blind Book” memperlihatkan keberanian bermain dengan rasa ingin tahu pembaca. Buku dibungkus tanpa judul terlihat. Pembeli membawa pulang pilihan yang belum ia kenal. Ada unsur kejutan di sana. Membaca kembali menjadi pengalaman, bukan sekadar belanja.

Perjalanan Berdikari tidak selalu lancar. Harga buku masih dirasa mahal bagi banyak orang. Membeli buku sering berarti menyisihkan kebutuhan lain. Toko ini juga pernah mendapat tekanan ketika menyelenggarakan diskusi. Dana tidak menutup mata pada kenyataan itu. Ia justru melihat tumbuhnya toko buku independen lain sebagai kabar baik. Jika dukungan besar belum datang, gerakan kecil tetap bisa berjalan.

Dari episode ini, ada satu gagasan yang tinggal cukup lama. Buku seharusnya dibaca, bukan hanya diperdagangkan. Kesetiaan tidak perlu diarahkan pada tokonya, melainkan pada kegiatan membaca itu sendiri. Di situ Berdikari berdiri.

Siniar TANDANG tidak sekadar merekam kisah sebuah usaha. Ia menangkap denyut keyakinan bahwa membaca adalah cara memandang hidup. Di Maguwoharjo yang riuh oleh perubahan, ajakan #BacaAjaDulu terdengar seperti jeda yang diperlukan. Sebuah kesempatan untuk menahan diri sejenak, membuka halaman, lalu memberi waktu pada pikiran untuk bekerja.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.