Pada 10 Juni 2025, di sela Pameran Tunggal ke-10 Miftah Rizaq bertajuk Konstelasi Doa di Dongeng Kopi, Daratama menyelipkan satu sesi siniar TANDANG dalam program Galang Warga. Galang Warga, atau Gelanggang Jam Terbang Warga, adalah ruang temu bagi para ekspresionis dari berbagai bidang. Karena pameran sedang berlangsung, perbincangan sore itu pun berputar pada seni dan kebudayaan.
Ruangnya sederhana. Aroma kopi masih terasa. Lukisan-lukisan Miftah menggantung di dinding. Di antara pengunjung yang datang dan pergi, Renggo Darsono memulai obrolan dengan tenang. Bukan wawancara yang kaku, melainkan percakapan yang mengalir. Miftah Rizaq, yang telah sampai pada pameran tunggalnya yang kesepuluh, berbicara tentang prosesnya dengan jujur, tanpa jarak.
Episode bertajuk Tafsir Abstrak Konstelasi Doa membuka cerita yang tidak selalu terang. Miftah mengaku ia sampai pada abstrak melalui kegelisahan. Ada masa ketika tekanan hidup membuatnya mudah meledak. Emosi dilampiaskan pada benda-benda di sekitarnya. Seorang kawan menyarankan agar energi itu dipindahkan ke kanvas. Saran sederhana itu menjadi titik balik. Sejak saat itu, abstrak baginya adalah ruang katarsis. Tempat marah, takut, dan kecewa diolah menjadi warna dan gerak.
Ia menjelaskan abstrak dengan perumpamaan yang mudah dicerna. Jika seorang pelukis realis berdiri di pantai, ia akan melukis laut, pasir, dan langit seperti yang terlihat. Pelukis surealis mungkin menambahkan imajinasi di cakrawala. Pelukis abstrak memilih melukis rasa saat berdiri di tepi ombak. Rasa itu tidak punya bentuk tetap. Setiap orang bisa menangkapnya secara berbeda. Di situlah kebebasan abstrak.
Dalam Konstelasi Doa, Miftah menghadirkan 27 karya. Setiap kanvas ia sebut sebagai satu doa. Doa baginya adalah komunikasi yang paling jujur antara manusia dan Tuhannya. Bukan hanya permintaan, melainkan percakapan batin yang memuat harap dan penerimaan. Salah satu karya yang ia sorot berjudul Tumbuh di Atas Kecewa. Ia berangkat dari kesadaran bahwa tidak semua doa perlu terkabul. Kekecewaan justru membuka ruang untuk bertumbuh.
Ia juga menyinggung cara kita berdoa. Banyak doa terdengar seperti perintah. Ia memilih sikap yang lebih teduh. Berserah, namun tetap berusaha. Ada kesadaran akan batas diri. Ada keinginan untuk menjaga hati tetap jernih.
Secara visual, seri ini menonjolkan warna neon dan fluorescent. Warna-warna terang itu ia anggap sebagai penanda agar doa tetap terlihat di tengah kebisingan hidup. Pada beberapa kanvas, cat disemprot, ditumpuk, disayat dengan pisau palet. Ada tulisan tip-ex yang sengaja tidak untuk dibaca. Semua hadir sebagai jejak gestur. Bukan untuk dijelaskan, melainkan untuk dirasakan.
Ritual kreatifnya tidak rumit. Kopi, rokok, musik, lalu doa sebelum mulai bekerja. Ia menjaga mood, tetapi yang paling ia jaga adalah kejujuran. Ia percaya karya akan menemukan takdirnya sendiri jika dibuat dengan jujur.
Di antara 27 karya itu, ada satu yang paling personal: Doa Ibu dengan Nada Minor. Karya itu ia persembahkan untuk ibunya. Nada minor dipilih karena menyimpan lirih yang dalam. Ia percaya doa ibu memberi kekuatan yang tak terlihat. Dengan restu itu, ia merasa lebih siap menghadapi hidup.
Dari perbincangan di Galang Warga sore itu, tersisa satu hal yang terasa kuat. Abstrak tidak meminta untuk dipahami secara seragam. Ia memberi ruang tafsir. Seniman hanya membuka pintu. Selebihnya, penonton berjalan dengan pengalamannya sendiri.
Melalui TANDANG yang disematkan dalam Galang Warga, Daratama tidak hanya merekam pameran. Ia merekam proses batin di baliknya. Di tangan Miftah Rizaq, doa menjelma warna dan goresan. Ia tidak berteriak. Ia bekerja pelan. Seperti harapan yang tumbuh diam-diam, tetapi terus hidup.