Awal Juni 2025, Episode 2 siniar TANDANG tayang. Renggo Darsono duduk berhadapan dengan Nina Hidayat di Desa Candirejo, Magelang. Percakapannya tenang, tanpa panggung berlebihan. Kamera merekam apa adanya: dua orang berbicara tentang satu hal yang mereka yakini penting, literasi.
Candirejo terletak di lereng yang memandang ke arah Candi Borobudur. Jalannya tidak ramai. Udara terasa longgar. Dari luar, desa ini tampak seperti banyak desa lain di Magelang. Namun di salah satu sudutnya berdiri Melek Huruf, ruang yang dirintis Nina bersama suaminya, Kristian.
Nina dan Kristian pernah tinggal di Jakarta. Hiruk-pikuk kota besar bukan hal asing bagi mereka. Gagasan untuk pindah sudah mereka bicarakan sejak 2013. Bukan keputusan spontan. Sepuluh tahun mereka menimbang. Pada 2023, keduanya benar-benar menetap di Magelang. Mereka ingin hidup yang lebih berakar, lebih dekat dengan komunitas, lebih masuk akal bagi diri sendiri.
Nama “Melek Huruf” terdengar lugas. Nina memaknainya lebih dalam. Melek huruf bukan hanya soal bisa membaca. Ia tentang kesediaan membuka diri, belajar, dan berdialog. Ruang ini dibayangkan sebagai ruang tamu bersama. Orang datang tanpa canggung. Buku tidak diletakkan sebagai pagar, melainkan sebagai jembatan.
Melek Huruf bukan perpustakaan formal. Ia ruang komunal. Ada diskusi buku, pemutaran film, peluncuran karya, juga obrolan yang terjadi begitu saja. Sebagian besar kegiatan tidak berbayar. Agar dapur tetap mengepul, Nina dan Kristian membuka warung dan pondok penginapan. Mereka sadar, idealisme perlu ditopang pengelolaan yang rapi. Literasi butuh keberlanjutan.
Salah satu program penting mereka adalah Pekan Buku Magelang. Acara ini menjadi titik temu banyak gagasan. Isu desa wisata pernah dibahas di sana. Percakapan tentang Palestina juga hadir. Penerbit independen membawa buku-buku mereka. Penulis lokal meluncurkan karya. Ada pula sesi “Manusia Magelang” yang menghadirkan tokoh setempat untuk berbagi cerita dengan anak-anak muda. Dari situ tumbuh rasa memiliki pada kota sendiri.
Rak buku di Melek Huruf berisi koleksi pribadi Nina dan Kristian. Mereka menyebutnya harta bersama. Minat keduanya tidak sama, justru itu yang memperkaya. Ada buku sosial-politik, kajian agama, ekonomi, sastra, gender, sejarah Magelang. Terselip komik lama Api di Bukit Menoreh dan biografi Gepeng dari Srimulat. Rak itu seperti peta perjalanan intelektual mereka yang kini dibuka untuk umum.
Komunitas pun terbentuk pelan-pelan. Ada kelompok yang rutin datang setiap Senin. Mereka menyebut diri “Geng Senin”. Anggotanya beragam, dari pemandu gunung sampai guru. Mereka berdiskusi, mencicipi menu warung, memberi masukan. Hubungan yang terbangun bukan hubungan penyelenggara dan tamu, melainkan pertemanan.
Tantangan tentu ada. Media sosial membuat banyak orang datang untuk berfoto. Buku kadang diperlakukan sebagai properti. Nina menghadapinya dengan sabar. Ia percaya, ruang yang dirawat dengan niat baik akan menemukan orang-orang yang tepat.
Dalam percakapan bersama Renggo, terselip mimpi yang belum selesai. Nina ingin membangun ruang diskusi indoor yang lebih layak, toko buku permanen, layar tancap untuk pemutaran film, bahkan pondok khusus penulis yang ingin tinggal dan menulis di Candirejo. Semua dirancang pelan, sesuai kemampuan.
Kunjungan TANDANG ke Candirejo terasa seperti pengingat. Di desa yang memandang Borobudur, abjad sedang dieja ulang. Melek huruf di sana bukan sekadar kemampuan membaca teks. Ia tentang membaca ruang, membaca sesama, dan membaca perubahan zaman.
Dari Magelang, literasi berjalan tanpa banyak suara. Ia tumbuh seperti tanaman yang dirawat tiap hari. Tidak tergesa. Tidak pula berhenti.