TANDANG: Kebun Makna, Menanam Ingatan di Tanah Ngluwar

Awal Juni 2025, episode TANDANG yang menyambangi Kebun Makna tayang. Kami datang untuk belajar. Ngangsu kawruh, kata orang Jawa. Dua pamomongnya, Rekki Zakia dan Maskur Hasan, menerima kami di Ngluwar, Magelang, di tanah yang tak jauh dari sungai dan hamparan sawah yang setia mengikuti musim.

Di sanalah Kebun Makna berdiri. Bentuknya kedai kopi. Fungsinya lebih dari itu.

Ruang ini dulu kebun milik kakek Rekki. Tanah yang ditanami, dirawat, lalu diwariskan. Di tangan generasi berikutnya, kebun itu tidak dijual atau dibiarkan kosong. Ia diubah menjadi ruang baca dan ruang temu. Kata “kebun” dipertahankan karena memang itulah asalnya. Pohon-pohon masih menaungi. Tanahnya masih berbau basah selepas hujan. Bedanya, kini ada rak buku dan meja panjang tempat orang berbincang.

Nama Kebun Makna lahir dari kegelisahan yang sederhana. Ada perasaan bahwa anak-anak muda desa makin jauh dari ruang pikirnya sendiri. Buku terasa milik kota. Diskusi terasa milik kampus. Maka ruang kecil ini dibangun sebagai kantong literasi. Supaya pengetahuan tidak selalu harus dicari ke pusat.

Di dalamnya tersusun sekitar empat ribu judul buku. Sastra, filsafat, kebudayaan, sejarah. Buku-buku yang tidak ringan, namun juga tidak dijaga dengan jarak. Targetnya enam ribu judul. Angka itu penting, tetapi bukan yang utama. Yang lebih terasa adalah percakapan yang muncul setelah orang membuka halaman pertama.

Perpustakaan ini dibuka dua puluh empat jam. Tanpa pintu. Tanpa kamera pengawas. Ada kepercayaan yang ditanam sejak awal. Buku memang tidak boleh dibawa pulang. Pengalaman kehilangan ratusan judul pernah terjadi. Dari situ mereka belajar. Orang boleh membaca sepuasnya di tempat. Tinggal lebih lama. Mengobrol setelahnya. Ruang dijaga bersama oleh warga yang merasa memiliki.

Kebun Makna juga tidak berhenti pada rak buku. Setiap musim libur sekolah ada program Liburan Ceria. Anak-anak belajar melukis, bermain teater, mengenal sains, menulis aksara Jawa, hingga menyusuri kampung untuk mencari asal-usul nama tempat. Ada Ruang Selapan yang digelar setiap empat puluh hari. Para sepuh duduk bersama anak muda, memindahkan pengetahuan lewat cerita. Diskusi buku, musik, monolog, sampai upaya menghidupkan kembali Kobro Siswo ikut memberi warna. Mereka bahkan merintis penerbitan kecil bernama Akar Makna untuk mencatat gagasan warga sendiri.

Semua dibangun dengan gotong royong. Genteng disumbang. Kayu soko diantar tetangga. Tenaga datang dari anak-anak muda yang ingin ruang ini berdiri. Pelan-pelan dampaknya terasa. Ada anak desa yang mulai bercita-cita kuliah setelah mengenal buku di rak itu. Ada yang menemukan minatnya lewat obrolan malam.

Tantangan tentu hadir. Gawai dan gim daring menarik perhatian lebih cepat. Rekki dan Maskur tidak memusuhi. Mereka menawarkan alternatif. Diskusi yang terbuka. Kegiatan yang membuat orang betah. Bahkan mereka meracik minuman tradisional berbasis kopi dan rempah. Minuman yang diminum sambil berbicara panjang. Seolah mengingatkan bahwa literasi tidak selalu kaku. Ia bisa hadir lewat rasa dan suasana.

Dalam episode TANDANG, Kebun Makna tidak dipotret sebagai tempat yang romantik. Ia tampil apa adanya. Tanah desa yang dijaga dengan kesadaran. Warung kopi yang berubah menjadi ruang belajar. Di Ngluwar, literasi berjalan sebagai kebiasaan, bukan slogan.

Barangkali yang paling terasa dari kunjungan itu adalah ketekunan. Orang-orang yang memilih berkumpul, membaca, dan berpikir di tengah riuh distraksi. Di Kebun Makna, ingatan ditanam pelan-pelan. Dari tanah yang sama, tumbuh harapan agar desa tidak kehilangan arah, dan kita tidak lupa dari mana berangkat.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.