Meski sudah lewat delapan bulan, rasanya belum terlambat untuk menuliskan perjalanan TANDANG. Program yang digagas Daratama ini kini telah melahirkan dua puluh empat episode siniar. Catatan ini barangkali datang belakangan. Namun setiap kerja yang bertumpu pada ingatan memang selalu berisiko terlambat jika tak segera ditulis.
Kata tandang dalam bahasa Jawa berarti bergerak. Ia juga berarti menyambangi, mendatangi. Dari sanalah akronim TANDANG—Tanja Djawab Tentang—dibentuk, dengan ejaan lama yang sengaja dipertahankan agar pas dengan bunyinya. Program ini lahir di Dongeng Kopi pada masa pandemi, ketika pertemuan dibatasi dan ruang-ruang diskusi terpaksa mengecil. TANDANG menjadi cara untuk tetap berjumpa. Awalnya disiarkan langsung melalui Instagram, dipandu Renggo Darsono sebagai juru cerita.
Lima tahun berlalu. Pada 20 Mei 2025, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, TANDANG hadir kembali dalam format baru. Renggo tidak berjalan sendiri. Ia mengorganisasi tim kecil: Alif Faturrahman, Gian Rosadi, dan Dias Nor Hidayah. Bersama Daratama, mereka menata kerja dokumentasi dan pengarsipan dalam rangka Cipta Media. TANDANG tidak lagi sekadar siaran langsung. Ia dipersiapkan sebagai jejak yang bisa disimpan.
Dalam prolog pengantar di kanal YouTube, Renggo menjelaskan makna TANDANG dengan sederhana. Datang langsung. Duduk bersama. Mendengar. Program ini tidak membawa narasumber ke studio. Justru ia yang mendatangi mereka. Percakapan berlangsung di ruang tempat cerita itu hidup. Di rumah baca, di kedai, di halaman yang akrab dengan diskusi kecil. Suasana sekitar dibiarkan apa adanya. Ruang tidak dibersihkan dari konteksnya. Ia hadir sebagai bagian dari cerita.
Sesi pertama mengambil rute dari utara ke selatan. Dari lereng Merapi yang menyimpan jejak Medang hingga pantai selatan yang menghadap Samudra Hindia. Perjalanan ini seperti menyusuri peta kebudayaan Yogyakarta dan sekitarnya. Di sepanjang jalur itu, ada komunitas dan ruang literasi yang bekerja tanpa banyak sorotan. Mereka tumbuh dari inisiatif warga. Ada yang bertahan bertahun-tahun, ada pula yang redup tanpa sempat tercatat.
Di situlah TANDANG menemukan pijakannya. Program ini berusaha mencatat ruang-ruang kecil yang kerap terlewat. Perpustakaan kampung, rumah baca, kedai yang membuka meja untuk diskusi. Tempat-tempat itu menyimpan tenaga sosial. Ia mungkin tidak besar, namun berarti bagi lingkungannya. Mencatat mereka berarti menjaga agar ingatan tidak mudah hilang.
TANDANG juga menaruh perhatian pada orang-orang di balik ruang itu. Para penggerak yang membuka pintu setiap hari. Relawan yang setia datang. Pembaca yang membentuk kebiasaan. Percakapan berjalan tanpa jarak. Dari sana tampak bahwa literasi bukan hanya soal buku, melainkan tentang pertemuan dan kesediaan berbagi waktu.
Prolognya singkat, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa simpul-simpul kebudayaan di sekitar Yogyakarta masih bergerak. Mereka tidak selalu mencolok. Mereka hadir dalam skala yang akrab. TANDANG datang untuk menyapa dan merekamnya.
Pada akhirnya, TANDANG adalah kerja yang bertumpu pada gerak dan ingatan. Ia bergerak dari satu ruang ke ruang lain. Ia menyimpan cerita sebelum terlewat. Dan dari setiap kunjungan, yang tertinggal bukan sekadar tayangan, melainkan kesadaran bahwa kebudayaan hidup dari orang-orang yang tekun merawatnya.