Dayang Bulan dari Cangkir Cerita Swarnabhumi

Ada masanya ingatan manusia hanya setipis embun di pucuk daun sukun: hadir ketika gelap hampir tamat, lenyap sebelum terang benar-benar datang, dilumat matari. Namun bagi mereka yang hidup, lahir, dan besar di Mayapada, ingatan bukan perkara sepele. Ia adalah beban yang tak bisa ditanggalkan. Menjadi sejenis kutukan, sekaligus berkah yang membuat hidup terus menyala.

Demikianlah kisah Ratu Ageng dan Dewi Kahyangan, sebuah legenda yang tumbuh dan diwariskan di tanah Swarnabhumi.

Alkisah, dua dasa warsa lamanya mereka berdiam di kahyangan sebuah ruang wening, jauh dari pening, genting, kehilangan, kegetiran dan penyesalan. Di sana waktu tidak berjalan; ia menggantung dalam terang yang tak pernah redup.

Dewi Kahyangan, sang Putri Langit, menjaga ketenteraman itu dengan ketenangan yang nyaris tanpa cela. Tetapi cerita ini bermula justru dari Ratu Ageng, lelaki bumi yang telanjur mencintai yang nisbi.

Ingatan tentang asal-usulnya tak pernah benar-benar padam. Ia kerap terbayang tanah tempat ia dilahirkan: bau tanah basah selepas hujan, suara dedaunan yang diinjak kaki manusia, dan rapuhnya hidup yang justru membuat segalanya terasa nyata. Rindu itu mula-mula hanya desir kecil, namun perlahan menggerogoti, hingga akhirnya menang.

Maka mereka pun turun ke bumi. Meninggalkan gemerlap bintang demi pijakan Arcapada tanah yang tak pernah menjanjikan keselamatan. Di sela rimbun hutan yang masih jelita di wilayah yang belum sepenuhnya bernama, petaka itu bermula.

Suatu ketika, Dayang Bulan – si bungsu, yang kecantikannya kerap disebut meminjam cahaya rembulan tiba tiba lenyap dalam sekejap mata. Tak ada tapak kaki, tak ada jerit minta tolong. Yang tertinggal hanyalah semerbak serai dan jeruk nipis yang menyayat udara, firasat buruk yang datang terlambat.

Ia diculik Malim Hitam, penyihir berhati jelaga, yang kesaktiannya dikenal licin dan menipu. Dengan menyaru sebagai ular lidi -kecil, tipis, nyaris tak terlihat- ia menyusup tanpa perlawanan. Sekali hembus sihir, tubuh molek Dayang Bulan diluruhkan dari wadag, hilang berubah menjadi sekuntum bunga: kaku, bisu, dan terasing dari dunia.

Kehilangan itu memukul Raden Alit dan Raden Kuning tanpa ampun. Dua kakak lelaki yang kesaktiannya konon sanggup membelah bukit, akhirnya dipaksa belajar bahwa kanuragan saja tak pernah cukup.

Dalam pertempuran yang mengguncang jagat kecil Arcapada, pedang dan keris mereka beradu dengan kabut hitam Malim Hitam. Untuk pertama kalinya, mereka tersungkur. Darah menyentuh tanah. Kekalahan pun terjadi, sesuatu yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Di titik nadir itulah, suara sang Guru kembali terngiang, lirih namun tegas:
Kekuatan bukan terletak pada lengan yang menghantam, melainkan pada siasat yang jernih.

Menghadapi musuh yang seolah memiliki seribu nyawa, mereka mengubah cara pandang. Bukan jantung yang dibidik, melainkan kesombongan sang penyihir. Dengan doa, mantra, dan kesabaran, sebuah kurungan besi ditempa pengunci sukma bagi Malim Hitam. Ia tak dibunuh, namun disingkirkan dari putaran dunia. Hidup, tetapi binasa dalam ketiadaan.

Saat sihir itu luruh, Dayang Bulan kembali ke wujud manusia. Namun ia tak pernah benar-benar sama. Pengalaman terperangkap di antara dua wujud meninggalkan bekas yang tak terhapuskan, sunyi yang hanya bisa dirasakan, tak sepenuhnya diceritakan.

Kisah ini lalu mengendap, mengkristal menjadi ingatan kolektif. Aneh dan ajaibnya, ingatan itu kini dapat kita cecap lewat indra perasa, di antara aroma bunga yang samar, di antara rasa yang seolah menjulur ke Mayapada dan berpaut kembali ke Arcapada.

Dalam setiap cangkir yang kami sajikan, tersimpan jejak perjalanan itu. Rasa karamel yang manis namun pekat adalah bayang kerinduan Ratu Ageng pada bumi. Sentuhan jeruk nipis dan serai hadir segar, mengingatkan pada keteguhan Raden Alit dan Raden Kuning saat membelah hutan dan takdir.

Profil rasanya berada di medium body—seimbang, seperti posisi manusia yang selalu terjepit di antara langit dan tanah. Dan ketika cairan itu melewati kerongkongan, ia meninggalkan jejak rasa yang panjang dan hangat, seperti legenda yang enggan pergi dari ingatan, terutama bagi mereka yang lahir dari Swarnabhumi, meski penuturnya telah lama tiada.

Di Arcapada, cerita tidak selalu selesai di kata.
Sebagiannya tinggal di rasa, menetap lama, lalu pulang bersama ingatan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.