
Alkisah, di singgasana Majapahit yang agung, ada kegelisahan yang merayap. Kabar tentang seorang pangeran dari Swarnadwipa yang tak mempan disentuh besi tajam telah sampai ke telinga Sang Nata. Rangkayo Hitam, begitu ia disebut, bukan sekadar pemuda gagah; ia adalah manifestasi dari harga diri sebuah negeri yang enggan tunduk pada upeti.
Karena pedang biasa hanya akan tumpul di kulitnya, Raja Majapahit mengutus Empu Berjakarti. Ini bukan tugas menempa alat tani. Ini adalah ritual menciptakan maut.
Bayangkan ketekunan itu:
Tujuh rupa logam dikumpulkan dari sembilan penjuru desa. Ditempa bukan pada sembarang hari, melainkan ritual sunyi yang mengharamkan hari Jumat. Prosesnya memakan waktu 40 purnama sebuah kesabaran yang melampaui batas kewajaran manusia.
Sebagai pamungkas, keris itu dimandikan di tujuh mata air berbeda. Umbul wingit yang konon sanggup membelah raga yang paling kebal sekalipun. Namun, sejarah punya selera humornya sendiri. Sesakti apa pun besi yang ditempa dengan dendam dan ambisi, ia akhirnya luluh di hadapan kewibawaan murni. Empu Berjakarti tumbang. Bukan karena senjatanya gagal, tapi karena ia berhadapan dengan sosok yang tak bisa ditaklukkan hanya dengan ketajaman material.
Dari Perseteruan ke Pelaminan
Dunia lama mengajarkan kita bahwa perselisihan besar sering kali berakhir dengan cara yang puitis. Majapahit, yang menyadari bahwa Tanah Pilih bukan lagi sekadar wilayah taklukan, memilih jalur martabat.
Tanah Pilih diakui sebagai nagari yang berdaulat. Sebagai pengikat persaudaraan—atau mungkin sebagai tanda hormat yang mendalam—Sang Nata memberikan hadiah terindahnya: Ratu Mas Ratu Ayu. Sebuah perkawinan yang menyatukan dua napas budaya, mengakhiri denting keris dengan alunan gending yang damai.
Secangkir Sejarah di Meja Kita
Kini, nama Rangkayo Hitam tidak lagi hanya hidup dalam naskah-naskah kuno yang berdebu. Ia menjelma dalam cairan hitam pekat di atas meja Dongeng Kopi.
Kopi Rangkayo Hitam. Ini adalah sebuah “campur sari” yang sangat berbeda dari sajian cangkir kopi dimanapun. Saat engkau menyesapnya, ada aroma Kerinci yang dingin dan misterius, seolah membawa kita ke kaki gunung tempat awan-awan rendah bergelayut.
Di lidah, kita merasakan karakter Swarnadwipa yang penuh dan berani (bold). Namun, di balik ketangguhan rasa itu, ada sentuhan karamel yang lembut dan manisnya kayu manis—mengingatkan kita pada Ratu Mas Ratu Ayu yang membawa kelembutan dalam kerasnya sejarah politik masa lalu.
Minum kopi ini bukan cuman soal kafein. Ini adalah urusan menghargai sebuah perjalanan: dari bara api Empu Berjakarti hingga ke kebun-kebun kopi di dataran tinggi Sumatra. Sebuah penghormatan bagi sang pangeran yang tak bisa ditaklukkan, namun memilih untuk bersahabat.