Ibu hamil boleh minum kopi, asal tidak melebihi ambang batas kafein.
Konsumsi kopi bagi ibu hamil kerap menjadi perdebatan. Warga kerepdolan, sebutan untuk pelanggan Dongeng Kopi yang merupakan akronim dari Kerukunan Pelanggan Dongeng Kopi lan Kekancan, tidak satu dua menanyakan mengenai apakah kafein selama masa kehamilan aman bagi janin. Dilansir dari beberapa media, para ahli kesehatan memberikan pendapat bahwa kafein boleh dikonsumsi dalam jumlah terbatas, namun perlu kehati-hatian.
Berapkah batasan Aman Kafein
Menurut situs halodoc, yang ditinjau oleh dr. Fadhli Rizal Makarim, kafein dalam jumlah sedang selama kehamilan dapat menimbulkan risiko. Beberapa penelitian mengaitkan konsumsi kafein yang tinggi (lebih dari 200 mg sehari) dengan bayi yang kecil untuk usia kehamilannya atau berisiko mengalami pembatasan pertumbuhan. Ini sesuai dengan pedoman dari berbagai organisasi kesehatan dunia, termasuk American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) dan World Health Organization (WHO), yang memberi batas aman asupan kafein untuk ibu hamil adalah tidak lebih dari 200 miligram (mg) per hari.
Dr. Nina Puspita, seorang spesialis kebidanan dan kandungan di RS Ibu dan Anak Jakarta, dikutip dari RRI.co.id menjelaskan, “Studi-studi terkini menunjukkan bahwa konsumsi kafein moderat umumnya tidak menimbulkan risiko signifikan terhadap kehamilan. Namun, kuncinya adalah batasan jumlah.”
Untuk memberikan gambaran, berikut perkiraan kandungan kafein dalam beberapa minuman umum:
- Kopi tubruk/saring (240 ml): 95-165 mg
- Teh hitam (240 ml): Sekitar 47 mg
- Minuman soda (350 ml): 30-40 mg
- Cokelat batangan (45 gram): Sekitar 10-60 mg
Sumber Kafein Lain dan Dampaknya
The Royal College of Obstetricians and Gynecologists,lewat studinya mengingatkan bahwa kafein tidak hanya berasal dari kopi. “Ibu hamil harus menyadari bahwa kafein juga ditemukan dalam teh, cokelat, minuman energi, dan beberapa obat-obatan. Penting untuk menghitung total asupan kafein dari semua sumber,” katanya.
Kafein diketahui dapat menembus plasenta dan mencapai janin. Janin memiliki kemampuan metabolisme kafein yang lebih lambat dibandingkan orang dewasa, sehingga kafein akan bertahan lebih lama dalam sistem tubuhnya. Konsumsi kafein berlebihan dikaitkan dengan potensi risiko berat lahir rendah pada bayi.
Pentingnya Konsultasi Medis
Meskipun ada batasan umum yang direkomendasikan, kondisi setiap kehamilan bersifat unik. Faktor-faktor seperti riwayat kesehatan ibu, kehamilan sebelumnya, dan tingkat sensitivitas individu terhadap kafein perlu dipertimbangkan.
Oleh karena itu, konsultasi dengan dokter atau bidan sangat dianjurkan sebelum ibu hamil memutuskan untuk mengonsumsi kopi atau produk berkafein lainnya. Tenaga medis dapat memberikan rekomendasi yang dipersonalisasi berdasarkan kondisi medis masing-masing pasien.
“Keputusan untuk mengonsumsi kopi harus didasari informasi yang akurat dan selalu dalam pengawasan profesional kesehatan. Kesehatan ibu dan janin adalah prioritas utama,” saran dr.Ikram Tahir, salah satu warga kerepdolan lain yang kami mintai pendapat terkait hal ini.